Mataram, LombokInsider.comGeneral Manager (GM) Santika Hotel Mataram, Reza Bovier mengatakan bahwa salah satu kendala kemajuan pariwisata di Pulau Lombok adalah mahalnya harga tiket pesawat dari dan ke Lombok. Apalagi Lombok baru saja di guncang gempa hebat pada Agustus-September lalu.

“Jujur, bahwa harga tiket pesawat yang mahal menjadi salah satu kendala perkembangan pariwisata kita di Lombok. Pasca gempa, maskapai mengurangi jumlah penerbangan ke Lombok, hal ini membuat harga tiket tambah mahal,” kata Reza pada acara afternoon tea atau ngobrol santai bersama jurnalis di Santika Hotel Mataram, Selasa (8/1).

Selain harga tiket, jam kedatangan dan direct flight yang tidak sinkron dengan ketersediaan fasilitas yang ada di Kota Mataram juga menjadi kendala, sehingga banyak maskapai kemudian menutup jalur direct flight karena sepi penumpang.

Seharusnya, menurut Reza, ketika airline akan membuka direct flight dari kota-kota besar ke Lombok, mereka mengajak pihak hotel, travel, restoran dan media untuk merumuskan waktu kedatangan yang tepat, sehingga tamu yang datang masih dapat menikmati kota Mataram, saat baru tiba di Lombok.

“Biasanya dari kota besar, pesawat tiba di Lombok terlalu pagi atau malam, sehingga sampai di Kota Mataram berbagai fasilitas penunjang masih atau sudah tutup, wisatawan mau menikmati apa? Kalau semua stakeholder yang ada diajak bicara, hal seperti ini tidak perlu terjadi dan wisatawan masih dapat menikmati kota Mataram saat di Lombok,” jelasnya.

Menyinggung okupansi hotel, Reza menyatakan bahwa seperti tahun-tahun sebelumnya berada pada kisaran 20 persen. “Tidak ada gempa saja okupansi Januari-Februari memang hanya sekitar 20 persen, apalagi ini masih dalam suasana recovery pasca gempa,” ujar Reza.

Reza juga memberikan masukkan kepada pihak-pihak berwenang penentu kebijakan, agar memperbanyak direct flight dari kota-kota yang sudah pasti ada penumpangnya.

“Lebih baik flight yang sudah pasti ada penumpangnya diperbanyak, seperti dari Bali, Jakarta dan Surabaya, daripada harus membuka jalur baru yang belum pasti penumpangnya. Ini masukkan saja ya,” tegasnya. (LI)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com