MENARIK. Seorang pemandu wisata sedang memandu dua wisatawan asing di Desa Sade, Lombok Tengah.

Pujut, LombokInsider.com – Sebuah destinasi budaya yang unik, menarik dan mencengangkan. Itulah penilaian penulis setelah berkunjung selama sekitar satu jam ke desa wisata Sade di Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Selama satu jam pada awal September 2016, penulis mengelilingi kompleks komunitas tradisional ini, berinteraksi dengan beberapa warganya, berbelanja oleh-oleh dan sholat asyar di madjid yang asri dan indah.

Dari kunjungan singkat ini, penulis melihat banyak keunikan perkampungan wisata ini. Penulis dan teman-teman dipandu oleh Faisal, pemandu wisata profesional setempat. Penulis dibawa keliling kompleks dan dijelaskan tentang keunikan perkampungan tradisional ini. Dalam kunjungan ini, penulis menjumpai banyak sekali wisatawan asing dan domestik yang juga sedang berkunjung.

UNIK. Memintal benang secara tradisional masih dilakukan oleh warga Sade, Lombok Tengah.

UNIK. Memintal benang secara tradisional masih dilakukan oleh warga Sade, Lombok Tengah.

Unik karena destinasi ini tidak banyak dijumpai di tempat lain. Sebuah desa khas yang telah tumbuh selama lima belas generasi dan tetap mempertahankan sendi-sendi budaya tradisional mereka. “Terdapat 155 kepala keluarga yang tinggal di perkampungan ini dan kami sudah tinggal di sini selama lima belas generasi,” kata Faisal.

Desa ini unik karena dalam desa seluas lima hektar ini terhimpun keluarga-keluarga yang mempertahankan tali kekeluargaan dengan saling menikahi satu sama lain dan tetap tinggal di perkampungan mereka. “Hampir tidak ada yang menikah dengan warga dari luar kampung ini,” jelas Faisal.

Yang juga unik adalah tata kelola di komunitas ini di mana pimpinan yang disebut jero kelian dipilih secara musyawarah mufakat dengan mempertimbangkan kemampuan calon pemimpin. “Jadi kami memilih siapa yang paling mampu untuk memimpin di antara kami,” kata Faisal.

Keunikan juga terbentuk dari arsitektur rumah tradisional berdinding dan berlantai tanah berlapis kotoran kerbau dengan atap ilalang yang alami. Uniknya, ada sebuah bangunan kecil yang dikhususkan bagi pasangan pengantin baru untuk menikmati bulan madunya.

RAMAH. Penduduk Sade ramah dan sopan terhadap wisatawan.

RAMAH. Penduduk Sade ramah dan sopan terhadap wisatawan.

Komunitas ini juga memproduksi sendiri kebutuhan-kebutuhan pokok pangan dan sandang mereka secara tradisional. Bahkan mereka memintal sendiri benang dan menenun kain untuk keperluan sendiri dan untuk dijual. Dengan segala keunikannya tersebut, Dusun Sade telah dikunjungi wisatawan sejak 1975.

Yang menarik adalah perkampungan ini telah tertata dengan baik dan dikelola dengan profesional. Banyak pemandu profesional bersiap sedia di pintu masuk perkampungan ini. Saat masuk kita akan diarahkan ke bagian penerimaan tamu di mana kita diminta untuk mengisi buku tamu dan memberikan donasi secara sukarela. Kemudian kita akan dibawa berkeliling kompleks dan akan menjumpai penduduk dan pedagang oleh-oleh yang ramah dan menyenangkan. Perkampungan ini juga terlihat bersih dan rapi. Bahkan masjid yang ada juga cukup besar, bersih dan indah dengan toilet dan tempat wudhu yang bersih dan air yang bagus. Satu jam memang terasa kurang untuk bisa menyelami lebih dalam tentang permukiman yang unik dan indah ini. Namun, dengan kunjungan yang singkat itu, penulis sangat merekomendasikan pembaca untuk mengunjungi tempat ini bila berkunjung ke Lombok. (LI/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono