Gili Nanggu

Sekotong, LombokInsider.com – Begitu mesin perahu menderu, rasa galau pun memburu. Ketidaksabaran memacu. Padahal di kejauhan lambaian tangan pulau kecil itu seakan berkata, Tenang, aku akan menunggumu. Begitu air pecah membuncah dibelah bilah-bilah baling-baling, perahu pun melaju, Menyeberangi teluk tenang di Sekotong yang jernih dan damai. Pulau itu pun semakin dekat dan rasa galau itu semakin menguat seakan ingin segera terbang lalu hinggap di pulau itu.

Hanya seperempat jam, perahu pun merapat dan benar-benar kami melompat dari perahu; lalu hinggap di permadani pasir putih yang lembut dan bersih. Selebihnya adalah keterpesonaan dan keterkaguman. Selebihnya adalah keindahan dan ketenangan.

Negeri Terujung

Inilah Gili Nanggu. Satu dari tiga pulau di timur Sekotong. Dua pulau lagi yakni Gili Sudak dan Gili Kedis.  Gili Nanggu berarti pulau terujung; sedangkan Gili Sudak disebut demikian karena banyak pohon sudak di pulau itu. Terakhir, Gili Kedis mendapatkan namanya karena banyakya kedis atau burung di pulau itu. Jadi, Gili Nanggu adalah negeri terujung di sini.

“Pulau ini sebenarnya milik perorangan yakni Pak Edy, orang Jakarta. Dulu punya masyarakat. Tapi sudah dijual semua ke Pak Eddy,” kata Sadli, pengemudi perahu yang mengantar kami.

Di pulau kecil, hanya 12,5 hektar, berpasir putih lembut itu oleh pemiliknya dibangun pelbagai sarana wisata. Setiap pengunjung dikenai  tiket masuk Rp5.000 yang dipungut oleh seorang petugas. Ada 11 kamar bungalow bertarif Rp500.000 per malam. Ada restoran yang menyajikan menu laut. Lalu ada kolam penangkaran penyu, mushala kecil dan toilet umum. Cukup memadai untuk pengunjung.

Termangu dan Ternganga

Daya tarik utama Gili Nanggu adalah pulau yang indah dan tenang, serta kehidupan bawah air yang menawan. Sepanjang pesisir selatan dan timur pulau ini terhampar pasir putih yang halus dan lembut. Air laut jernih dan tenang. Di bawahnya terdapat kehidupan laut yang indah. Pengunjung kebanyakan menikmati pulau ini dengan menyelam, snorkling, berenang atau hanya berjemur di pantai. Tentu saja menikmati pemandangan alam sekitar dan berfoto merupakan kegiatan yang menjadi pilihan.

Ketika penulis dan keluarga berkunjung siang itu, Gili Nanggu cukup ramai dengan pengunjung lokal, nasional dan asing. Tampak sepasang suami isteri dari Perancis sedang bermain dengan anak balitanya yang masih dibawa dengan kereta balita. Tampak pula dua turis wanita berjemur sambil tiduran. Sedangkan di beberapa beruga tampak sekelompok karyawan sedang melakukan kegiatan outbound. Di beruga yang lain, terdapat rombongan manula dari Bandung sedang mengobrol. Lalu dua rombongan tamu wanita dan pria sedang bergegas kembali ke perahu setelah seharian meluangkan waktu di sana.

“Gili Nanggu ini indah sekali. Kami sangat menikmati,” kata Rudy, wisatawan dari Bandung yang datang dengan rombongan 30 orang.

Sementara Eka yang sudah kembali duduk di dalam perahu dan bersiap kembali ke Sekotong mengatakan singkat, “Indah sekali!.” Lalu dia menambahkan, “Sayang, waktunya pendek sehingga tidak bisa berlama-lama di sini.”

Anak saya, Cahya, 11 tahun, sejak tiba di pulau ini tak berhenti mengabadikan gambar dengan kamera Nikon 1 mirrorless barunya. Dia bereksperimen dengan pelbagai cara memotret suka-suka. Sementara adiknya, Dimas, 8 tahun, terus saja berenang dan main terjun loncat ke air dari atas jetty bersama anak-anak lainnya.

Puncak kegembiraan kami adalah saat kami menyelam untuk memberi makan ikan. Dari Sekotong kami telah membeli roti tawar yang kemudian dimasukkan ke dalam botol air yang tutupnya diberi lubang; lalu diisi air. Saat menyelam, kami keluarkan serpihan roti tawar itu dengan menekan botol plastik tersebut. Maka dalam sekejap puluhan ikan besar berdatangan memperebutkan makanan itu. Kami pun tercengang dan ternganga melihat pemandangan ini.

“Wow, keren!” teriak Cahya sambil setengah tidak percaya.

“Banyak sekali ikannya. Besar-besar!” timpal Dimas.

Berkah untuk Masyarakat

Ada ratusan perahu yang melayani pelayaran ke kompleks tiga gili di sini. Perahu-perahu itu ada yang berpangkalan di Lembar dan di Sekotong. Pelayaran dari Sekotong ditempuh sekitar 15 menit dengan biaya Rp250.000 pergi pulang. Perahu cukup bagus dan nyaman dengan operator yang ramah.

“Saya mulai bisnis boat sejak 2004 dengan satu boat. Sekarang saya punya 5 boat. Masing-masing harganya Rp50 juta termasuk mesinnya. Boat ada yang buatan lokal dan ada yang didatangkan dari Jawa,” kata Zaenab, pemilik boat di Sekotong.

Di sepanjang jalan di Sekotong juga dipenuhi dengan pedagang ikan bakar. Kami pun makan siang di sana. Kami memesan dua ikan bakar dan satu ikan goreng. Sayur bening bayam dan jagung muda menjadi temannya. Plus tempe goreng dan sambal yang super pedas.

“Enak. Tidak terlalu mahal,” kata Tina, isteri saya, yang paling hafal harga makanan di warung.

Wisata Berkelanjutan

Pengelolaan destinasi wisata Gili Nanggu saat ini bisa dibilang cukup baik dan berkelanjutan karena tetap mempertimbangkan fungsi ekologi pulau tersebut dan melibatkan masyarakat dalam penyediaan jasa wisata. Secara formal, pengelolaan destinasi ini disebut kawasan konservasi perairan berbasis wisata yang mencakup Gili Tangkong, Gili Nanggu dan Gili Sudak, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat

Perahu ke Gili Nanggu

Perahu ke Gili Nanggu

Snorkling di Gili Nanggu

Snorkling di Gili Nanggu

.

Namun, dengan banyaknya pengunjung, sampah mulai menjadi masalah. Banyak sampah plastik melayang-layang dalam air sehingga bisa mengganggu wisatawan dan kelestarian alam.

Sebagai sebuah destinasi halal, di pulau ini perlu dibangun masjid yang besar dengan sarana wudhu yang memadai dan terpisah antara pria dan wanita. Yang ada saat ini hanya mushala kecil dan tempat wudhu hanya sebuah kran air asin. Saat berkumur dalam berwudhu dengan air air, seperti memasukkan sesendok garam ke dalam mulut. Getir dan pahit serasa ingin muntah. Jadi, ke depan perlu ada air tawar yang memadai.

Bila kita mengemudi sendiri dari Mataram ke Sekotong, kita akan menghadapi kesulitan mencari arah karena terbatasnya rambu jalan. Bahkan penulis sempat tersesat ke jalan yang mengarah ke Selong Belanak, Loteng, karena tidak memadainya rambu jalan. (LI/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono