Pemberhentian pertama

Mataram, LombokInsider.com – Lombok memang surga bagi pecinta sepeda, baik pesepeda jalan raya maupun pesepeda gunung. Rute-rute indah dan menyenangkan banyak tersedia di dekat kota tanpa harus jauh-jauh membawa sepeda keluar kota. Dari rute yang landai santai sampai rute yang terjal menantang semua tersedia.

Kali ini LombokInsider.com menyajikan rute sepeda gunung yang cukup berat namun asyik yakni Bukit Sempeni 380 m dpl yang kami jalani pada Sabtu (16/7).

TANJAKAN PERTAMA. Adhar Hakim menjadi marshal pagi ini.

TANJAKAN PERTAMA. Adhar Hakim menjadi marshal pagi ini.

SDN MEKARSARI. Rehat sejenak, nafas tersengal.

SDN MEKARSARI. Rehat sejenak, nafas tersengal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Panjang dan Berat

Sekitar pukul 07.35 kami sudah mulai berkumpul di meeting point baru, depan hotel Golden Tulip di Jl Sudirman, Kota Mataram. Setelah semua tim berkumpul, kami berdelapan mulai gowes ke arah timur dan di perempatan pasar Sayang-sayang kami belok kiri dan mengikuti jalan Diponegoro. Kami terus gowes sampai di ujung jalan Diponegoro dan masuk ke Jl Raya Kekeri sampai tiba di Pasar Kekeri. Dari Pasar Kekeri inilah jalan mulai menanjak dan menanjak tidak ada hentinya.

Kami berhenti sejenak setelah melewati tanjakan berat pertama pada pk 07.55. Minum dan berfoto bersama sebelum melanjutkan perjalanan. Rekan kami Miq Atot, yang paling senior dari sisi umur dalam perjalanan ini, selalu memimpin kami di depan selama menyusuri tanjakan ini.

Bukit Anjing Menggonggong

Kami perlu istirahat sejenak karena masih ada beberapa tanjakan berat lagi di depan. Kami pun lanjutkan perjalanan. Nah, belum dua menit kami menanjak, kami disambut gonggongan anjing dari rumah-rumah penduduk di sana. Ya, Mekarsari adalah perkampungan campuran antara Lombok dan Bali. Anjing-anjing tersebut berasal dari rumah-rumah warga Bali. Karena itu rute ini juga disebut Bukit Anjing Menggonggong. Tapi jangan kuatir. Anjing-anjing tersebut tidak galak. Jadi, anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Setelah diteriaki oleh anjing, sampailah pada tanjakan tajam dan panjang yang di tengahnya ada bangunan pura. Di sini, sebagian besar pesepeda, harus rela menanggalkan egonya dan mulai menuntun sepedanya. Hanya mereka yang benar-benar jago tanjakan yang bisa menembus tanjakan ini. Selebihnya, harus sabar mendorong sepeda sekitar 10 menit.

Tapi itu bukan dorongan terakhir karena rute selanjutnya juga tidak kalah terjal. Tepatnya sekitar 7 meniti dari tanjakan pura tersebut, kami terpaksa dorong sepeda lagi. Lalu gowes nanjak lagi selama 10 menit sebelum sampai di SDN Mekarsari di mana kami istirahat lagi sejenak karena mulai tersengal-sengal. Untungnya di depan kami tinggal satu tanjakan dan tidak terlalu berat sebelum kami sampai di puncak.

REJEKI. Nikmat minum kopi di ketinggian 385 m. Gratis lagi.

REJEKI. Nikmat minum kopi di ketinggian 385 m. Gratis lagi.

SIAP DOWNHILL. Dari titik ini turunan nikmat dimulai.

SIAP DOWNHILL. Dari titik ini turunan nikmat dimulai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Puncak Mekarsari 380m dpl

Dari SDN Mekarsari perjalanan dilanjutkan ke titik terakhir sebelum kami mulai turun gunung. Perlu waktu sekitar 15 menit untuk mencapai etape terakhir ini. Tepat sekitar pukul 09.00 kami pun akhirnya sampai di titik yang kami sebut Mekarsari 380 m dpl karena inilah lokasi teratas yang bisa dicapai di jalur ini dan titik ii berada di desa Mekarsari dengan ketinggian 380 meter di atas permukaan laut. Titik ini lebih tinggi dari titik di Korea Beton yang tingginya 280 m dpl.

Kami pun rehat sejenak di sini. Cita-cita kami ingin menikmati kopi di titik ini. Na-mun sayangnya belum ada warung kopi di sini. Ada sekelompok tukang yang sedang bekerja membangun warung di kiri jalan. Tampak mereka sedang minum kopi. Kami pun akhirnya mendapatkan rejeki dan ditawari dibuatkan kopi oleh para tukang tersebut. Alhamdulillah. Tujuh gelas kopi pun dihidangkan untuk kami secara cuma-cuma. Ceritanya, mereka sedang membuat warung dan kami menyarankan agar mereka menjual kopi karena tempat ini akan banyak dikunjungi pesepeda gunung dan akan menjadi seperti Korea Alfamart kedua. Tampaknya mereka memiliki pemikiran yang sama. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, bila lewat jalur ini lagi, kita bisa minum kopi.

 

 

SEDAP. Pertengahan pertama turunan.

SEDAP. Pertengahan pertama turunan.

PUAS. Finish di sini.

PUAS. Finish di sini. Pas capainya. Pas puasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Turunan Berpasir

Puas minum kopi dan menjalankan ritual bakar tembakau, dan tentu saja berfoto barang satu dua, kami bersiap untuk menuruni bukit. Pk 09.18 pun kami siap meluncur menuruni bukit, mengambil bonus kenikmatan down hill setelah lebih dari dua jam menanjak. Tempat start turunan berada di sebelah kanan jalan, di seberang bakal warung, menuju arah desa Erat Mate. Dari situ langsung turun curam pada jalur berpasir. Namun tidak jauh dari situ sedang ada pembuatan beton jalan sehingga kami harus mengangkat sepeda kami.

Lima menit awal rute ini melewati jalan berpasir, berlumpur, dan dengan rintangan lubang serta pipa air. Saya dan beberapa teman terjatuh karena roda depan tergelincir pada pipa air berwarna hitam yang tertutup pasir. Untungnya hanya jatuh di pasir sehingga tidak terlalu sakit.

Dengan kecepatan sedang, rute ini selanjutnya habis ditempuh dalam lima sampai tujuh menit lagi melewati jalan tanah dan jalan beton, menyusuri pinggiran kampung yang berakhir di sebuah pertigaan yang memisahkan Dusun Erat Mate Malaka dan Dusun Ranjok Barat, Ranjot Timur. Tepat pukul 09.40 semua rombongan telah tiba di pertigaan ini, akhir dari rute turunan. Dari sini kami kembali pulang ke Mataram dengan perasaan puas dan rasa capai yang pas; serta kenangan akan gonggongan anjing, dan pengalaman terindah minum kopi berkat kebaikan hati penduduk di titik Mekarsari 380 m dpl.

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono