Mataram, LombokInsider.com – Salah satu keunikan Lombok adalah adanya warna Bali di beberapa tempat di Lombok terurama di Mataram dan Lombok Barat. Taman Mayura yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu Karangasem di Mataram merupakan salah satunya.

Terletak di daerah Cakranegara, Taman Mayura merupakan destinasi wisata sejarah favorit di Mataram. Di taman ini juga terdapat Pura Meru, tempat peribadatan umat Hindu. Peninggalan sejarah ini dikelola secara adat di bawah manajemen Krama Pura Meru.

Taman Mayura dibang

Di tengah kolam terdapat rat kerta atau semacam gazebo yang digunakan sebagai tempat jamuan.

Di tengah kolam terdapat rat kerta atau semacam gazebo yang digunakan sebagai tempat jamuan.

un sekitar 1744 pada masa pemerintahan Raja Anak Agung Anglurah Made Karangasam. Komplek seluas sekitar 4 hektar ini dijadikan destinasi wisata mulai 1972 dan telah mengalami tiga kali renovasi yakni pada 2001, 2003 dan 2015 untuk memperbaiki fasilitas yang ada. “Dulunya tempat ini bernama kelepug yang berarti mata air. Baru pada 1866 berubah menjadi mayura,” kata Andi, pemandu lokal di Taman Mayura.

Ada hikayat terkait dengan nama Taman Mayura ini. Saat pembangunan taman, wilayah ini masih berupa hutan lebat. Banyak pekerja proyek pengerjaan taman yang meninggal karena digigit ular berbisa. Lalu dimintalah bantuan ke kerajaan Banten yang kemudian mengirimkan burung merak atau mayura untuk mengendalikan ular berbisa. Dari situlah taman ini mendapatkan nama.

Kebesaran Masa Lalu 

Taman Mayura yang megah dan asri menggambarkan kebesaran kerajaan Karangasem pada masa lalu di mana Lombok merupakan wilayah kekuasaannya. Taman ini memiliki kolam utama yang besar dan indah. Dulunya air mengalir desar dari mata air di Narmada menuju ke kolam ini. Di tengah kolam terdapat rat kerta atau semacam gazebo yang digunakan sebagai tempat jamuan. Pemandangan dari gazebo ini sangat indah karena dikelilingi kolam yang luas.

Di taman Mayura ini juga terdapat Bale Loji, Bale Pererenan, Bale Kumbung, Pura Jagatnatha, dan Pura Kelepug yang merupakan peninggalan asli. Sedangkan fasilitas tambahan yang ada adalah aula, galeri lukisan, toko cendera mata dan restoran.

“Pada masa pemerintahan Raja Anak Agung Anglurah Made Karangasem, taman Mayura digunakan sebagai tempat peristirahatan pada musim hujan. Sebaliknya taman Narmada yang hanya berjarak sekitar 5 km dari taman Mayura, digunakan sebagai peristirahatan pada musim panas,” tambahnya.

“Dinasti raja-raja Karangasem tinggal di taman Mayura sejak 1744 – 1972. Bahkan beberapa keturunan kerajaan juga masih tinggal di sekitar Mayura hingga saat ini,” imbuh Andi.

Operasional

Taman Mayura dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 06.00 sampai 18.00. Setiap hari rata-rata 500 wisatawan berkunjung. Tiket masuk relatif murah hanya Rp5.000 untuk domestik dan Rp10.000 untuk wisatawan manca negara. “Hasil penjualan tiket ini kami gunakan untuk biaya operasional sehari-hari selain juga ada bantuan dari pemerintah Kota Mataram,” kata Andi.

Sebanyak sebelas relawan bekerja untuk menjaga dan membersihkan Taman Mayura di bawah pimpinan Ida Bagus Nyoman Subali Kresna. (LI/AA)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono