KOMPAK. Seluruh anggota rombongan berpose bersama sebelum memulai downhill di tengah hutan Rempek, Lombok Utara, Sabtu (10/9)

KOMPAK. Seluruh anggota rombongan berpose bersama sebelum memulai downhill di tengah hutan Rempek, Lombok Utara, Sabtu (10/9)

 

Lombok Utara, LombokInsider.com – Dengan Gunung Rinjani yang menjulang tinggi dengan kaki-kakinya menghujam hampir di setengah pulau Lombok, maka pulau ini menawarkan arena bermain yang tidak ada habisnya bagi pecinta sepeda gunung atau MTB. Kini jalur Rempek di Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara menjadi favorit para pecinta sepeda gunung di Lombok.

ASYIK. Peta google yang menunjukkan rute dari Rempek ke Pantai Tebing.

ASYIK. Peta google yang menunjukkan rute dari Rempek ke Pantai Tebing.

Penulis ikut dalam rombongan sekitar 50 penghobi sepeda gunung dari pelbagai klub MTB yang tergabung dalam Komunitas Tinjal Pedal (tinjal: kayuh) Kota Mataram mencoba jalur ini pada Sabtu (10/9). Dengan dikomandoi Masyur Chung, berangkat dengan 2 truk dan 2 pick up, rombongan meninggalkan Kota Mataram sekitar pk 07.40 menuju Rempek melalui Pusuk. Tepat pukul 09.00 rombongan sudah memasuki gapura Desa Rempek. Rombongan rehat sekitar 30 menit untuk menunggu semua tim berkumpul sambil minum kopi di warung di dekat gapura. Perjalanan kemudian dilanjutkan sekitar 20 menit melalui jalan aspal dan kemudian dilanjutkan dengan 20 menit di jalan tanah. Pukul 10.10 rombongan telah tiba di ujung desa Rempek yang menuju ke arah hutan. Di sini sepeda diturunkan dari truk, sementara pick up melanjutkan perjalanan.

BONGKAR. Di sini sepeda diturunkan dari truk untuk memulai gowes.

BONGKAR. Di sini sepeda diturunkan dari truk untuk memulai gowes.

Dua Titik Turunan

Sekitar pk 10.25 rombongan yang naik truk mulai gowes naik ke titik tujuan. Jalanan didominasi dengan jalan tanah bergelombang dengan tanjakan-tanjakan yang cukup melelahkan melalui kebun kopi dan coklat yang dinaungi pohon-pohon besar di atas dan perdu serta pakis di bawah. Pada beberapa titik, sebagian besar peserta mendorong sepedanya.

Pukul 11.10 rombongan tiba di titik pertama yang dijadikan awal turunan. Sekitar 35 orang mengambil titik ini untuk turun sementara 15 orang lagi melanjutkan gowes naik menuju titik dua. Beda jarak titik pertama dan kedua adalah gowes sekitar 25 menit, dalam kisaran waktu tempuh yang sama dengan Bukit Korea Kelapa.

Downhill Keren

Baik titik pertama dan titik kedua menawarkan turunan yang keren dan asyik. Penulis mengikuti rombongan yang mengambil titik turunan kedua yang lebih masuk ke hutan. Turunan dimulai dengan jalur single track menyusuri tepian hutan selama sekitar 25 menit sampai kami masuk ke jalan desa. Di tengah jalan, rombongan berhenti sejenak karena ada seorang pesepeda terluka kakinya. Sementara peserta yang lain mengambil video adegan main loncat-loncatan sepeda. Lihat tautan di Facebook ini untuk melihat salah satu adegan loncatan.

MELELAHKAN. Tanjakan-tanjakan melelahkan mengawali gowes di Rempek.

MELELAHKAN. Tanjakan-tanjakan melelahkan mengawali gowes di Rempek.

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan desa sampai rombongan mengambil jalur single track lagi melalui kebun kelapa yang indah melalui turunan jalur air alami yang hanya bisa dilewati sepeda gunung dan tidak bisa dilewati motor. Namun, keindahan dan keasyikan itu juga awal dari petaka yang kami alami.

Pada ujung kebun kelapa ini kami mulai tersesat. Untungnya akhirya ketemu dengan rumah penduduk dan ada seorang ibu yang dari kejauhan menunjukkan arah jalan dengan isyarat tangan saja. Kami ikuti arah yang diberikan oleh ibu tersebut yakni jalan single track naik turun sungai kering. Pada akhirnya kami harus berhenti karena jalan yang kami lalui buntu yang ternyata kami selama beberapa saat melalui sungai kering, bukan jalan ke ladang. Pada saat yang sama seorang peserta mengalami ban pecah. Perbekalan air pun habis. Lengkap sudah penderitaan. Namun, ternyata titik kami tersesat ini memiliki pemandangan yang indah, sebuah padang savana yang menghadap ke laut. Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan tersesat itu untuk berfoto ria di tengah terik matahari pukul 2 siang.

MENGGODA. Trek ini memiliki banyak gundukan alami yang menggoda untuk main loncat.

MENGGODA. Trek ini memiliki banyak gundukan alami yang menggoda untuk main loncat.

Dengan trial and error mencari jalur melalui pinggiran ladang penduduk, kami berpencar mencari jalur yang biasa dilalui motor penduduk. Untungnya sinyal telepon tersedia di daerah tersebut sehingga kami mudah berkomunikasi. Akhirnya kami menemukan jalur tersebut. Dengan bergegas kami mengayuh sepeda kami dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Pukul 2.23 kami sampai ke jalan raya Tanjung – Mataram dan singgah sejenak di masjid Desa Gondang.

Rombongan pertama yang finish di Pantai Tebing akhirnya meluncur menjemput kami. Mereka telah menunggu lebih dari satu jam di sana. Rombongan pun lengkap dan kami kemudian meluncur ke Selelos untuk makan siang sebelum pulang ke Mataram.

BONUS. Makan siang nasi bungkus di sebuah restoran di Selelos.

BONUS. Makan siang nasi bungkus di sebuah restoran di Selelos.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Namun memuaskan. Saking asyik dan banyaknya tempat untuk loncat-loncat, banyak yang memplesetkan Rempek menjadi Rampage. Silakan dicoba. (LI/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono