Ponpes Nurul Haramain

Bagian 1: Dari Pendidikan Islam sampai Bahasa Arab dan Inggris

Narmada, LombokInsider.com – Kecamatan Narmada tidak saja terkenal karena taman pemandian dan air minum, namun juga banyak dikunjungi orang karena adanya pondok pesantren yang besar yakni Nurul Haramain. Pondok pesantren yang terletak di Lembuak Kebon, Narmada, Lombok Barat ini tidak saja fokus pada pendidikan Islam namun juga pengembangan keterampilan komputer, bahasa Arab dan Inggris yang selaras dengan kebutuhan industri pariwisata di Nusa Tenggara Barat.

Ponpes Nurul Haramain berdiri pada 1951 atas permintaan masyarakat kepada almarhum Mawlānāsysyāikh Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd, atau Tuan Guru Pancor, pendiri Nahdlathul Wathan (NW) di Pancor, Lombok Timur. Maka Tuan Guru Pancor menugasi dua guru muda yakni Ustadz Muhammad Djuaini Mukhtar dan Ustadz Ma’ad bin H. dengan misi memberikan pengajaran agama Islam kepada masyarakat dengan mendirikan madrasah.

“Kelahiran madrasah Nurul Huda disambut positif oleh masyarakat. Murid yang masuk belajarpun cukup banyak dan tidak hanya dari wilayah Narmada saja, namun juga dari Seganteng, Cakranegara bahkan dari luar Kabupaten Lombok Barat,” kata TGH Hasanain, 52 tahun, putra TGH Muhammad Djuaini Mukhtar.

Seiring dengan perkembangan organisasi, Madrasah Nurul Huda diubah menjadi sekolah PGANW pada 1963. Dengan maksud meningkatkan kualitas pendidikan maka pada 1996 pengurus Yayasan Pondok Pesantren NW Narmada yang menjadi induknya membentuk pondok pesantren Nurul Haramain. Lembaga ini bertanggung jawab menjalankan pendidikan formal dan non formal dengan sistem asrama disesuaikan dengan keadaan. Pondok Pesantren Nurul Haramain terbagi menjadi dua putra serta putri, sekarang lebih dikenal dengan eNHa Pa dan eNHa Pi, papar TGH Hasanain.

Keterampilan Komputer dan Bahasa

Kini, sudah puluhan ribu santri yang pernah menimba ilmu di Nurul Haramain. Ponpes ini pun terus mengembangkan diri dengan mengadopsi metode-metode baru dalam pembelajaran. “Sejak beberapa tahun terakhir kami telah menggunakan metode berbasis komputer sebagai pendukung perkembangan teknologi untuk mendukung akselerasi kemajuan pondok,” jelas TGH Hasanain.

Ponpes Nurul Haramain kini memiliki tiga laboratorium komputer yang dilengkapi dengan 70 komputer. Dalam proses belajar mengajar pun telah menggunakan buku-buku digital dan ujian dil

Ponpes Nurul Haramain menampung 2000 santri laki-laki dan perempuan.

Ponpes Nurul Haramain menampung 2000 santri laki-laki dan perempuan.

akukan nirkertas atau paperless. “Administrasi penerimaan santri baru kami juga menggunakan sistem database komputer,” tegas TGH Hasanain.

Kemampuan berbahasa asing terutama Arab dan Inggris mendapatkan penekanan penting di Ponpes Nurul Haramain. Bahasa Arab digunakan dalam percakapan siswa/siswi sehari-hari. “Sebagai bahasa Al-Qur’an bahasa Arab merupakan bahasa yang mendunia dan sudah menjadi keharusan generasi muslim untuk memperlajarinya dengan serius. Untuk itu MANW Narmada menjadikannya sebagai salah satu program utamanya,” jelas TGH Hasanain.

Demikian juga Bahasa Inggris yang merupakan bahasa dunia yang sangat penting, diupayakan dipergunakan dalam percakapn siswa dalam lingkungan pondok sehari-hari. “Untuk mendukung program ini maka pondok mengadakan pelajaran pendukung seperti Englsih conversationreading serta morning conversation di mana siswa/siswi berlatih langsung untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris,” ungkap

Ponpes Nurul Haramain

Penerimaan santri baru menggunakan sistem komputer. Terpaksa dibatasi karena daya tampung terbatas.

TGH Hasanain.

Saat ini Ponpes Nurul Haramain memiliki 2000 santri yang tinggal di pondok pesantren. “Kami harus membatasi jumlah santri karena masih kurangnya daya tampung di sini. Saat ini kami sedang menyelesaikan pembangunan gedung baru yang nantinya bisa menampung 5000 santri,” jelas TG Hasanain.

Dengan 2000 santri yang mendapatkan pendidikan Islam serta menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, maka Ponpes Nurul Haramain telah berkontribusi mencetak sumber daya manusia yang handal untuk mendukung perkembangan industri pariwisata di NTB. (Bersambung)

Pewarta: Agus Apriyanto

Penyunting: Kasan Mulyono

 

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono