Ponpes Nurul Haramain dan TGH Hasanain

Bagian 2: Sejuta Bibit Pohon Gratis Setiap Tahun 

Selain program unggulan dalam bidang akademis, pondok Nurul Haramain juga banyak melakukan kegiatan bakti sosial kem

Langganan Juara. Santri dan santriwati Ponpes Nurul Haramain langganan juara lomba PMR dan Pramuka.

Langganan Juara. Santri dan santriwati Ponpes Nurul Haramain langganan juara lomba PMR dan Pramuka.

asyarakatan. “Setiap “Jum’at bersih” para santri kami sebar untuk membantu melakukan kebersihan lingkungan pondok, masjid-masjid sekitar dan pasar Narmada, sehingga kesadaran masyarakat akan kebersihan bisa meningkat,” kata TGH Hasanain.

“Seluruh santri adalah anggota Pramuka/PMR. Mereka sudah terorganisir untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat langsung. Bahkan beberapa prestasi telah diraih oleh PMR Madya Nurul Haramain dalam pelbagai perlombaan,” jelas TG Hasanain.

Satu lagi program unggulan di luar bidang akademis yang bahkan membawa namaTGH Hasanain hingga ke tingkat internasional adalah kepeduliannya terhadap lingkungan. Pada  31 Agustus 2011 TGH Hasanain dianugerahi Penghargaan Ramon Magsaysay karena prestasinya mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan, menghormati perempuan, serta membangun kerukunan beragama. Penghargaan Ramon Magsaysay sering disebut juga sebagai Nobel versi Asia ini diserahkan kepada TGH Hasanain dan lima peraih lainnya di Manila, Filipina.

Sebagai pemimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain, kini namanya sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang juga pernah meraih penghargaan Ramon Magsaysay. Pria kelahiran 1964 ini mengaku bahwa energi terbesar yang memotivasinya dalam mengembangkan pesantrennya adalah nilai-nilai agama.

“Energi saya dari ajaran agama yang saya pelajari. Penghargaan itu merupakan penilaian manusia namun yang terpenting apa yang kami lakukan di pondok ini semata-mata mencari keridhaan Allah SWT dan agama Islam mengajarkan seperti itu,” jelas alumni Pondok Pesantren Modern Gontor 1984 ini.

Giat Tanam Pohon

Bukan sekedar penghargaan memang, karena beliau dan pondoknya memang sudah banyak berbuat untuk lingkungan sejak 2000. Setiap tahun hingga sekarang ponpes ini selalu melakukan pembuatan 1 juta bibit gratis. Bermacam bibit yang ditanam yakni jati, mahoni, albania, jabon, gavelina; serta tanaman lokal seperti bajur, garu, kelokos, gaharu, elar dan perik. “Semuanya disediakan gratis kepada siapa saja yang ingin menanam,” jelas TGH Hasanain.

“Biaya operasionalnya memang sangat besar mencapai Rp1 miliar per tahun karena kami harus mencari bibit ke hutan, memungut biji yang berjatuhan siang dan malam yang semuanya itu kami lakukan secara swadaya,” jelasnya.

“Pada Oktober 2016 ini, bibit-bibit yang sudah siap tanam akan dibagikan ke Sumbawa, Bima dan Bali. Mereka memang sudah menjadi pelanggan karena sudah tahu bahwa kami selalu menyediakan bibit gratis setiap tahun,” tegas TGH Hasanain.

Kegiatan rutin lain yang dilakukan berhubungan dengan lingkungan adalah menanam pohon di pinggir-pinggir jalan, di wilayah Lombok Internasional Airport, Kabupaten Lombok Utara dan Belanting bekerjasama dengan masyarakat sekitar, majelis-majelis ta’lim, polisi, TNI dan juga PNS.

“Kami juga membantu masyarakat sekitar hutan yang pernah direhabilitasi untuk membangun tanggul dari karung pasir mencegah tanah longsor. Hal ini sering terjadi karena mata air yang dulu pernah ada dan hilang kemudian sekarang muncul lagi setelah dilakukan reboisasi hutan,” tegas Hasanain.

Hutan Madani Super Camp

“Program unggulan lingkungan lainnya adalah Hutan Madani Super Camp di mana para santri menginap di camp yang telah disediakan dengan fasilitas lengkap seperti, aula, internet, kelas-kelas serta training centre, mereka disana selama tiga bulan sebanyak 300 orang secara bergantian untuk bisa lebih khusuk belajar Al-Qur’an, kitab kuning, bahasa Inggris dan matrikulasi subyek-subyek tertentu lainnya,” jelasnya lagi.

Madani Super Camp ini sendiri tidak hanya diperuntukan untuk santri dari Nurul Haramain, namun bekerjasama dan menerima juga santri dari pondok lain seperti, IAIN, IKIP, YARSI, STKIP Pancor dan mahasiswa lain yang ingin merasakan sensasi mondok ditengah hutan buatan seluas 56 ha sehingga bisa lebih peduli terhadap lingkungan.

“Pondok kami juga melakukan kegiatan 3-R Reduce (mengurangi sampah dengan mengurangi pemakaian barang atau benda yang tidak terlalu kita butuhkan), Reuse (memakai dan memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru), Recycle (Mendaur ulang kembali barang lama menjadi barang baru), para santri dan masyarakat bersama-sama belajar praktek bagaimana mengelola sampah, sedangkan sisa dari sampah yang sudah dilakukan 3-R kami hancurkan dan bakar,” jelas TG Hasanain.

“Pada Juli ini, kami akan ikut berpartisipasi dalam kegiatan rehabilitasi 1500 ha hutan lindung di Sesaot, nantinya disana akan dibangun camp untuk menginap sambil rekreasi dan menanam pohon kami menyebutnya eco & edu wisata untuk melaksanakan Pergub wajib menanam bagi sekolah dan madrasah,” tambah TGH Hasanain.

Wisata Halal

Sementara ketika ditanya mengenai kesiapan NTB menyabut wisata halal, TGH Hasanain menjelaskan bahwa dengan terpilihnya Lombok sebagai destinasi wisata halal ini memperjelas peluang pariwisata NTB dengan segmen pasar tersendiri. “Pariwisata merupakan keharusan, dengan sumber daya alam yang luar biasa lengkap ditunjang sumber daya manusia yang harus terus ditingkatkan karena pariwisata merupakan sumber yang tidak akan habis,” jelas TGH Hasanain.

“Namun yang jangan dilupakan bahwa kita masyarakat NTB ini berbasis agraris sehingga sebaiknya disinergikan antara menjadi pariwisata yang bercorak agraris. Dengan perkembangan pariwisata tidak boleh serta merta meninggalkan pertanian, karena bisnis pariwisata masih rentan dengan kejutan keamanan dan bencana alam. Namun kita harus tetap optimis dan siap untuk menjadi dan ambil bagian dari pariwisata ini,” pungkas TGH Hasanaain.

Pewarta: Agus Apriyanto

Penyunting: Kasan Mulyono

 

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono