Pepadu cilik

Pepadu cilik sedang adu ketangkasan

Mataram, LombokInsider.com – Seni pertunjukan maskulinitas berupa pertarungan antara dua orang laki-laki hidup di pelbagai kebudayaan dunia sejak jaman dulu. Dalam tradisi Romawi ini disebut tarung gladiator. Dalam tradisi Jepang dikenal sumo. Di Lombok dikenal peresean.

Penulis secara kangsung menyaksikan pertunjukan peresean pada suatu sore baru-baru ini di Dasan Sari, Mataram.

Di tanah lapang di sudut dusun dekat Taman Udayana ini dibuat arena peresean berupa ruang berbentuk bujur sangkar yang hanya dibatasi dengan tali rafia. Tampak si dalam arena dua orang petarung atau pepadu dan dua wasit. Di sayu sisi arena sekumpulan pemusik memainkan musik penyemangat. Sementara penumpang berderet di sepanjang sisi-sisi arena dengan antusias menyaksikan.

Dua pepadu tengah mempersiapkan diri dengan mengenakan saru, telanjang dada dan mengenakan ikat kepala. Tangan kirinya menggenggam perisai teebuat dari kulit sapi. Tangan kanannya menghunus tongkat pemukul dari rotan.

Setelah saling menyapa dan bersalaman, kedua pepadu bersiap bertarung di tengah arena. Petarung di sebelah kiri berbadan kekar dengan tubuh sedikit pendek. Dengan ketenangan sorot matanya dan bahasa tubuhnya terlihat dia adalah petarung yang sudah pengalaman. Petarung di sebelah kanan tampak lebih muda dengan tubuh lebih tinggi namun dengan tatapan matu yang ragu menggambarkan dia adalah petarung baru yang ingin menjajal lawannya yang lebih tua.

Peluit ditiupdan serta merta kedua pepadu saling serang dengan memukulkan tongkat ya ke arah lawan, yang ditahan d ngan perisai. Setelah beberapa gebrakan, pepadu yg muda tersudut dan terjatuh. Wasit pun melerai. Lalu simulai lagi. Kemballi pepadu senior menunjukkan kelasnya dengan pukulan-pukulan cepat bertemaga membuat pepadu muda terdorong mundur keluar arena. Lalu peluit menghwntikan babak pertama.

Babak kedua dimulai dan kembali pepadu senior menunjukkan dominasinya dengan beberapa kali berhasil memasukkan pukulan ke badan dan lengan pepadu muda yang membuatnya menyengir kesakitan.

Babak ketiga, babak terakhir pun dimulai ketika hari menjelang senja. Kedua pepadu ingin menunjukkan teknik terbaik yang mereka miliki untuk mengalahkan lawannya. Secara agresif pepadu senior secara bertubi-tubi menyetang pepadu muda. Namun di akhir rode ini, sebuah pukulan keberuntungan dari pepadu muda masuk dan mengenai kepala pepadu senior dan seketika menguculkan darah dari lukanya. Pepadu muda memenangkan pertandingan sore itu. Setelah saling bersalaman, pepadu muda tersenyum sambil meringis menahan sakit dengan beberapa goretan luka di lengan dan tubuhnya.

Persahabatan dan Tradisi
Peresean masih bertahan di Lombok di tengah maraknya olah raga bela diri modern yang lebih digandrungi oleh anak-anak muda.
“Kami setiap tahun mengadakan seni peresean untuk melestarikan kesenianini karena anak-anak muda banyak yang sudah meninggalkannya. Peserta dari seluruh Lombok. Ini adalah ajang silaturahmi antar pepadu. Mereka datang sendiri dan mengadu ketangkasan si aini,” kata Harun, Ketua Panitia dan pegiat sanggar seni Sasak di Dasan Sari, Kota Mataram.

Secara historis, olah raga ini dimainkan saat menjelang musim tanam padi dan diadakan di sawah dengan maksud meminta hujan. “Namun saat ini, peresean lebih merupakan olah raga tradisi Sasak yang menjunjung tinggi sportivitas. Juga tidak ada dendam dalam olah raga ini. Antar pepadu tetap silaturahmi,” jelas Harun.

Sementara itu Saharudin, Lurah Kebun Sari, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram mengatakan bahwa pemerintah terus melestarikan olah raga seni ini. “Setiap tahun kami mengadakan acara peresean karena antusiasme masyarakat sangat besar. Bahkan kadang setahun siadakan sua kali yakni pada Hari Kemerdekaan dan even lainnya,” kata Saharudin.

Peresean ini diadakan secara swadaya oleh masyarakat. Penonton dikenai tiket masuk Rp5.000 per orang. Hasil penjualan tiket dipakai untuk honor pepadu dan biaya operasional. “Acara ini juga kami hajatkan untuk menggalang dana bagi pembangunan mushala,” kata Harun. (LI/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono