Pasar Kebon Roek, Kota Mataram

Mataram, Lombokinsider.com – Bagi daerah-daerah wisata, tidak hanya mall-mall modern, pasar tradisional pun menjadi daya tarik wisatawan. Apalagi bagi wisawatan dari perkotaan yang jarang berkesempatan melihat suasana pasar tradisional. Kota Perth di Australia Barat misalnya, memiliki Perth Home Grown Markets dan Fremantle Traditional Market yang banyak dikunnjungi wisatawan. Nah, Kota Mataram memiliki Pasar Kebon Roek yang menarik untuk dikunjungi.

Pasar Kebon Roek terletak di Jl. Adi Sucipto, Ampenan, di ujung barat laut Kota Mataram. Pasar semi modern ini menampung ribuan pedagang dan dibanjiri puluhan ribu pembeli setiap hari. Berbagai kebutuhan pokok dari sayuran, buah, bumbu, ayam, daging, telur, sembako dan kebutuhan pokok dapur lainnya lengkap tersedia di sini. Pedagang dikelompokkan di lapak-lapak sesuai dengan jenis jualannya.

SEGAR. Ibu Aen, penjual buah segar di Pasar Kebon Roek.

SEGAR. Ibu Aen, penjual buah segar di Pasar Kebon Roek.

Didominasi Ibu-ibu

Pasar Kebon Roek ini seperti kerajaan bisnis para wanita karena kebanyakan pedagangnya adalah wanita. Atik Sungkar, misalnya, berjualan kebutuhan pokok. Wanita yang sudah 35 tahun berjualan di pasar ini, menjual ratusan macam bahan pangan melayani pebisnis katering. “Setiap hari dari jam 06:30 pagi saya mulai jualan, tutup sekitar jam 18:00 sore, dibantu oleh dua anak saya bergantian dengan nilai penjualan sekitar Rp5 juta setiap hari,” kisah ibu tujuh anak ini.

Sedangkan Hj. Fadlia sudah berjualan daging sapi selama 22 tahun di Pasar Kebon Roek ini. “Kami awalnya membantu ibu jualan daging, setelah ibu meninggal kami berlima melanjutkan usaha ini. Kami berjualan hanya sampai jam 12 siang. Rata-rata kami bisa menjual daging 70kg/hari dengan omzet mencapai Rp12juta/hari dengan pelanggan kebanyakan penjual bakso,” kata Hj. Fadlia.

DAGING. Hj. Fadlia dan adiknya berdagang daging sapi.

DAGING. Hj. Fadlia dan adiknya berdagang daging sapi.

Di sudut lainnya, Mila adalah pedagang ayam potong selama 20 tahun. Mila mulai berjualan sekitar jam 08:00 pagi karena masih harus mengurus keluarga sebelum berdagang ke pasar. Menurut Mila, dalam sehari rata-rata bisa menjual 200 ekor ayam potong dengan omzet mencapai Rp13juta. “Pelanggan saya kebanyakan para ibu rumah tangga, pedagang mi ayam, kateringan, dari Gili dan Senggigi juga restoran Bebek Quali di Sayang-sayang,” kata Mila bangga.

Lokasi Pasar Kebon Roek yang strategis dan tidak jauh dengan kawasan wisata Senggigi, dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum menjadikan pasar ini sering dikunjungi wisatawan asing. Mereka sering terlihat berkunjung kesini untuk sekedar berfoto dan melihat hiruk pikuk keramaian pasar dan keindahan pelbagai barang dagangan yang berwarna-warni. Tentu saja dengan segala keriuhan suara pedagang dan pembeli tawar menawar; juga bau khas pasar tradisional. Sebuah pengalaman wisata yang unik.

 

Pewarta: Agus Apriyanto

Penyunting: Kasan Mulyono

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono