Pasar Seni Sayang-sayang

Mataram, Lombokinsider.com – Pasar Seni Sayang-sayang merupakan pusat penjualan souvenir atau oleh-oleh khas Lombok yang berdiri sejak 2001. Sempat mengalami masa kejayaan, kini para pedagang di pasar seni ini tetap tegar berjualan di tengah ramainya persaingan dan seiring pindahnya bandara dari Mataram ke Praya.

“Hingga sekitar 2011 pasar seni ini masih ramai dikunjungi tamu-tamu yang berlibur ke Lombok, karena harga di sini jauh lebih murah dibanding tempat lain, terutama jika masa liburan seperti sekarang,” jelas Lalu Agus Sumardi, pedagang souvenir, Selasa (12/7).

“Namun semenjak Bandara Selaparang tidak beroperasi lagi dan pindah ke Lombok Tengah memang terasa sekali penurunan pendapatan kami,” lanjut Agus Sumardi.

BERTAHAN. Pengunjung di salah satu toko di Pasar Seni Sayang-sayang.

BERTAHAN. Pengunjung di salah satu toko di Pasar Seni Sayang-sayang.

Toko souvenir Suci Murni milik Agus Sumardi ini menjual berbagai macam benda seni khas tradisional seperti gantungan kunci, gelang, cincin, asbak, gerabah, gangsing lombok, angklung angin, ketak, kain tenun dan kalung serta masih banyak yang lainnya dari model dan jenis yang berbeda.

Ada sekitar 27 lokal toko ukuran sekitar 2×4 meter, yang dibangun oleh Pemkot Mataram. Para pedagang menyewa dengan biaya yang relatif murah Rp 600.000 per tahun. Hampir semua toko menjual souvenir dan hanya satu toko yang berjualan herbal dan satu RM Taliwang.

Berinovasi dan Berpromosi

Berkurangnya pendapatan tidak serta merta menyurutkan hati dan kemauan Agus Sumardi untuk tetap bertahan menjemput rezeki. “Saya sudah jualan souvenir khas Lombok ini sejak 2005 lalu. Alhamdulillah setiap hari selalu ada saja pengunjung yang datang ke sini, walaupun tidak seramai dulu. Tetap harus kita syukuri nikmat yang Allah berikan, karena rezeki bukan hanya berupa materi,” tambah Sumardi.

Selain itu, Agus dan teman-temannya juga terus berinovasi untuk bisa bersaing dengan sentra penjualan barang seni lainnya. “Untuk menekan biaya, kami mengambil bahan baku semi jadi di pengrajin dari Sesaot, Labu Api dan Sesela. Sampai di sini atau di rumah baru saya tuntaskan dengan pengecatan dan pewarnaan. Ini untuk menekan biaya operasional karena kalau beli yang siap jual harganya terlalu mahal dan kami tidak bisa bersaing dengan harga itu,” ungkap bapak empat anak ini.

INOVASI. Lalu Agus Sumardi terus berinovasi dan berpromosi untuk berhasil.

INOVASI. Lalu Agus Sumardi terus berinovasi dan berpromosi untuk berhasil.

Menurut Agus hasil dari berjualan souvenir selama 11 tahun di Pasar Seni Sayang-sayang ini sudah lumayan bahkan sudah bisa membangun beberapa lokal tempat kos di Mataram di atas tanah pembagian orang tuannya. Rumah kos ini juga yang menambah penghasilan rumahtangganya. “Alhamdulillah kalau lagi ramai bisa dapat Rp10 juta per bulan dari para pelanggan bisnis yang ambil barang dari saya untuk dijual lagi di Pulau Moyo, Senggigi, Gili dan lain-lain,” akunya.

Agus Sumardi berharap agar pariwisa Lombok khususnya dan NTB umumnya dapat maju sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap para pedagang di Pasar Seni ini.

“Semoga pariwisata kita semakin maju, sehingga wisatawan semakin banyak yang datang otomatis lebih banyak yang kemungkinan mampir kemari,” pungkas Sumardi yang juga melakukan promosi penjualan produknya melalui medsos Instagram dan Facebook untuk meningkatkan penjualan di tengah ketatnya persaingan.

Pewarta: Agus Apriyanto

Penyunting: Kasan Mulyono

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono