Sumbawa, LombokInsider.com – Jeda sejenak dari rutinitas kerja sehari-hari, puluhan karyawan PT Newmont Nusa Tenggara dan mitra kerja menjelajahi hutan Marente untuk menikmati indahnya trio air terjun Saketok, Agal dan Sebra akhir Maret lalu. Hutan Marente terletak di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, sekitar 30 menit dari pelabuhan feri Poto Tano.

Jalur trekking yang alami membuat perjalanan ini harus ditempuh

Jalur trekking dalam hutan lebat yang menantang.

Jalur trekking dalam hutan lebat yang menantang.

Rasa capai terbayar setelah mencapai air terjun.

Rasa capai terbayar setelah mencapai air terjun.

selama satu setengah jam untuk bisa tiba di air terjun Agal. Perjalanan diawali dengan menyeberangi sungai Tiu Kele, debit air yang tinggi membuat mereka harus melanjutkan perjalanan dengan pakaian basah. Bebatuan terjal dan akar pohon tak menyulitkan perjalanan mereka, namun tanjakan curam yang dirasakan tak berujung menguras energi mereka.

Lebatnya rajutan rotan yang melilit pohon satu ke pohon lainnya, nyaris sempurna menghalau sinar matahari menembus tanah. Sesekali mereka melintasi kebun kopi milik masyarakat, tampak buah kopi yang masih hijau bergelayut di batangnya. Buahnya yang lebat menarik batang-batang itu merunduk ke tanah.

Udara lembab membuat sepanjang jalur trekking banyak ditumbuhi pohon Jelatang. Bila daun Jelatang tersentuh kulit terasa panas seperti terbakar api. Porter lokal selalu mengingatkan untuk tidak menyentuhnya selama perjalanan.

Penunjuk arah memang sudah ada namun jalur pijakan belumlah layak. Sebagain besar jalur yang ditempuh merupakan jalur aliran air hujan dan sela-sela pepohonan.

Belum Banyak Dikenal

Air terjun Agal memang bisa dibilang masih ‘perawan’ atau belum banyak dikenal. Hanya kalangan penghobi fotografi saja yang sudah mengenal air terjun ini sementara publik secara umum belum banyak mengenalnya.

Tingginya mencapai 150an meter, saking tingginya seakan air jatuh dari langit menyeruak dinding tebing. Deburan airnya adalah satu-satunya suara yang memecah kesunyian hutan Marente. Di sekitarnya menjadi sangat lembab karena serpihan airnya terbang kemana-mana dibawa angin, bebatuan pun menjadi licin dan berlumut.

Dua jam, rasanya belumlah cukup untuk melihat, mendengar, menyentuh dan merasakan keindahan dan segarnya air yang terjun bebas dari celah tebing, menghujam tanah dan mengalir deras di celah bebatuan kemudian menghilang di ujung sungai.

Berendam, mandi kemudian makan siang dan sholat menjadi ritual terakhir sebelum meninggalkan mahakarya Tuhan yang satu ini lantas kembali berjalan menuju desa Marente.

Selain air terjun Sagara masih ada lima air terjun lainnya di sekitar kawasan hutan Marente, air terjun Rangala, Kagala, Brang Dalap, Setawa dan Kokar Reban. Air terjun Sebra diperkirakan tingginya sekitar 320 meter, merupakan air terjun yang tertinggi di kawasan Marente, untuk mencapai Sebra masih harus berjalan empat jam lamanya dari Agal. Oh, no!. (LI/KM)

 

Teks: Komang Ardana

Foto: Sujatmiko Hidayat, Lalu Zulkarnain (BHPC)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono