Mengagumi Kerukunan Hidup antara Hindu dan Islam di Pura Lingsar

Mataram, LombokInsider.com – Kerukunan dan toleransi antar umat beragama telah ditunjukkan oleh masyarakat Hindu dan Islam tiga abad silam di Bumi Lombok. Itu terwujud dalam kompleks Pura Lingsar di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Dalam kompleks itu wajah Hindu dan Islam hidup berdampingan.

“Pura ini didirikan oleh Raja Anak Agung Ketut Karang Asem pada 1714. Kemudian dibangun lagi pada 1878 menjadi pura terbesar dan yang pertama di Lombok. Lingsar berasal dari kata lingsir yang berarti awal. Pura ini merupakan perpaduan nilai-nilai Hindu dan Islam karena dalam pura ini terdapat bangunan untuk umat Hindu dan bangunan untuk umat Islam,” kata Jamhur, petugas di Pura Lingsar kepada Lombokinsider.com pada Sabtu (16/7).

Kompleks pura yang besar dengan lahan keseluruhan 26 hektar ini memang merupakan simbol kerukunan antara Hindu dan Islam. Bagian utara pura disebut Pura Hindu dan disebut Gaduh. Sedangkan bagian selatan disebut pura Islam dan disebut Kemaliq. Petugasnya pun berasal dari masing-masing agama. Pura Islam diurus oleh Jamhur dan keluarganya. Sedangkan pura Hindu diurus oleh Wayan Widya dan saudaranya.

KERUKUNAN. Kerukunan antara Hindu dan Islam terwujud di Pura Lingsar

KERUKUNAN. Kerukunan antara Hindu dan Islam terwujud di Pura Lingsar

Bangunan Utama

Selain dua pura tersebut, dalam kompleks ini terdapat pesiraman dan pesimpangan Bhatara Bagus Balian serta Lingsar Wulon. Selain itu ada juga empat buah pancuran di siraman sebelah selatan dalam pura Kemaliq dan lima di sebelah utara dalam pura Gaduh. Sedangkan di luar kompleks kedua pura tersebut juga tersedia sembilan pancuran khusus untuk laki-laki serta sembilan lagi khusus untuk perempuan yang dulunya merupakan tempat permandian keluarga kerajaan, jelas Jamhur.

Di bagian luar pura terdapat tiga buah bangunan bale. Dua buah Bale Jajar di halaman barat pura dan sebuah Bale Bundar. Kedua bangunan Bale Jajar ini merupakan tempat kegiatan kesenian dan beristirahat bagi umat yang bersembahyang. Bangunan Bale Bundar terletak di halaman Jaba Pisan, halaman luar pura Kemaliq yang merupakan tempat kegiatan rapat dan beristirahat bagi umat yang bersembahyang.

“Pada bagian paling selatan kompleks taman terdapat Kolam Ageng, merupakan miniatur atau replika dari Danau Segara Anak, yang merupakan kolam terluas di area komplek pura,” tegas Jamhur.

Di sebelah utara halaman luar bencingah terdapat Kolam Kembar. Pada sisi sebelah selatan dan sisi sebelah utara terdapat Candi Bentar. Candi Bentar yang ada di sebelah selatan merupakan pintu masuk ke halaman bencingah, sedangkan Candi Bentar yang ada di sebelah utara merupakan pintu masuk dari halaman jabaan. Di halaman ini terdapat bangunan gedung baru yang dimanfaatkan sebagai tempat pagelaran.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tengah melakukan penataan terhadap destinasi wisata Pura Lingsar ini dengan biaya Rp3,15 miliar yang meliputi pekerjaan-pekerjaan bangunan.

LUAS. Kolam dan pemandian di Pura Lingsar

LUAS. Kolam dan pemandian di Pura Lingsar

Perang Topat

Pura Lingsar ini setiap tahun menjadi arena untuk gelar budaya perang topat. Acara ini melibatkan masyarakat luas dari kedua unsur agama Islam dan Hindu. Acara ini merupakan wujud rasa syukur atas tersedianya air untuk bercocok tanam dan keberhasilan panen.

“Biasanya seminggu sebelum acara perang topat, dilaksanakan pagelaran kesenian rakyat seperti peresean, drama, rudat dan juga wayang. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat sekitar dan juga wisatawan dari luar untuk datang. Puncak pagelaran rakyat biasanya pada malam sebelum perang topat keesokan harinya,” pungkas Jamhur.

Pura Lingsar telah menjadi destinasi penting bagi para wisatawan yang melakukan kunjungan ke Lombok. Even perang topat juga menjadi acara penting yang banyak menarik wisatawan setiap tahun.

 

Pewarta: Agus Apriyanto

Penyunting: Kasan Mulyono

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono