Mataram, LombokInsider.com – Sebagai daerah kunjungan wisata, hampir semua sendi kehidupan masyarakat di Lombok menjadi daya tarik bagi wisatawan. Tak terkecuali cidomo, moda angkutan tradisional Lombok yang masih banyak dijumpai beroperasi di Kota mataram dan bahkan dijadikan sarana angkutan publik satu-satunya di beberapa tempat wisata.

Berbanding lurus dengan keindahan alam dan keunikan budaya, Lombok mempunyai banyak kelebihan dibandingkan daerah wisata lainnya. Salah satu yang masih ada yaitu cidomo. Sebagai alat transportasi tradisional berupa gerobak mini yang ditarik oleh seekor kuda, hingga kini masih banyak kita jumpai di jalanan perkotaan, desa dan beberapa tempat wisata seperti Senggigi dan Gili.

Sejarah Cidomo

Keberadaan cidomo sendiri muncul dari kebudayaan agragris Lombok, di mana sawah-sawah terhampar luas dan masyarakat banyak memelihara kuda dari sini munculah ide untuk membuat alat angkut padi yang ditarik oleh kuda, lahirlah cidomo. Seiring berjalannya waktu cidomo tidak hanya digunakan untuk mengangkut padi, tetapi juga mengantarkan manusia dan barang lainnya ke tempat tujuan yang cukup jauh.

Di masa sekarang cidomo bahkan banyak kita temui di jalanan baik desa maupun kota, bersaing dengan alat transportasi lain. “Mungkin karena ongkos yang relatif murah sekitar Rp2000 – Rp5000 sekali angkut, makanya masih laku,” jelas Pak Anwar seorang kusir. Cidomo juga merupakan alat transportasi yang unik sehingga menarik perhatian wisatawan mancanegara dan pada acara adat merariq (pernikahan) tak jarang pengantinnya diarak keliling menggunakan cidomo.

“Kalo dulu bisa dapat Rp35rb-50rb setiap hari, tapi sekarang dapat Rp25rb saja sudah alhamdulillah,” lanjut Anwar ditempat mangkalnya seputaran pasar Kebon Roek Ampenan. Banyaknya alat transportasi lain membuat pendapatan para kusir mulai berkurang, ojek, bemo dan mudahnya memperoleh kredit kendaraan bermotor adalah faktor pengaruhnya.

Sejurus dengan itu pemerintah melalui Dinas Pariwisata menjadikan cidomo sebagai salah satu alat transportasi pariwisata di daerah pantai seperti Sengiggi dan juga Gili seperti yang sudah disebutkan diatas. Cidomo dianggap tepat untuk menggantikan motor atau mobil yang dianggap menimbulkan polusi, hanya saja perlu diperhatikan kotoran kuda hendaknya di tampung dengan karung sehingga tidak menimbulkan polusi yang lain.

Unik dan Menarik

Dilihat dari bentuknya yang unik, cidomo sendiri terbentuk dari 3 unsur yakni dokar (ditarik kuda), cikar (badan cidomo dari kayu), motor (roda dari mobil), berdasarkan hali ini mengapa masyarakat Lombok mengartikan kata cidomo sebagai kependekan dari “cikar dokar motor”.

Naik cidomo juga relatif aman, bisa mengangkut banyak barang dengan ongkos murah dan lebih ramah lingkungan, itulah sebabnya banyak masyarakat yang masih menggunakan jasa cidomo.  Meskipun demikian cidomo juga memiliki kekurangan yang disebkan oleh kusirnya sendiri, kotoran kuda yang dibiarkan berserakan dijalan tentu saja menimbulkan bau dan pemandangan tak sedap, untuk lingkungan.

Peran pemerintah dan masyarkat sangat diharapkan untuk dapat menertibkan hal itu, agar NTB yang sekarang menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia dan domestik, dapat memperbaiki penampilan utamanya di jalur-jalur jalan yang menuju daerah wisata agar selalu bersih dan rapi. Memang tidak mudah untuk mewujudkannya perlu kesadaran juga dari diri sendiri khususnya para kusir agar disiplin untuk selalu memasang terpal atau karung untuk menampung kotoran kudanya agar tidak berserakan dijalan. (LI/AA)

Cidomo dijadikan sarana angkutan umum di Gili Trawangan

Cidomo dijadikan sarana angkutan umum di Gili Trawangan

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono