Kuliner Ramadhan
Minuman dingin dan tajil menjadi jualan favorit di Rembiga.

Minuman dingin dan tajil menjadi jualan favorit di Rembiga.

Wahana mainan anak-anak pun ikut memeriahkan pasar Ramadhan.

Wahana mainan anak-anak pun ikut memeriahkan pasar Ramadhan.

Mataram, LombokInsider.com – Ada yang istimewa selama bulan suci Ramadhan. Restoran atau warung makanan yang biasanya ramai dikunjungi pelanggan, serta merta beristirahat berjualan selama sebulan penuh agar bisa berkonsentrasi beribadah. Namun pada saat yang sama muncul pengusaha-pengusaha kuliner musiman yang khusus berjualan hanya pada bulan Ramadhan. Maka di sentra-sentra pemukiman padat penduduk seperti di Pagutan, Rembiga dan Ampenan menjamur pasar Ramadhan.

Perempatan Rembiga

Inilah yang terlihat dari para pedagang kuliner di daerah perempatan lampu lalulintas Rembiga. Bukan hanya mereka yang sudah biasa berjualan disana sehari-hari akan tetapi banyak juga pedagang musiman yang ikut meramaikannya. Bermacam-macam olahan kuliner khas Lombok pun tersedia seperti pelecing kangkung, beberuk, pepes daging, urap, ebatan, sate rembiga, sate pusut, sate ikan, olah-olah, tongkol plecing, ayam dan ikan goreng/bakar serta masih banyak lagi.

Selain itu berbagai macam ta’jil untuk berbuka juga tersedia, kolak, es campur, bubur ketan hitam dan kacang hijau, salad buah, es kelapa muda, kue lapis, kelepon, gorengan, buah-buahan dan masih banyak lainnya. Ada sekitar 20 lapak yang dibangun di area pasar Rembiga ini dan puncak keramaian biasanya terjadi sejak pukul 17:00 sampai menjelang adzan maghrib.

Inaq Minah misalnya, memang sudah biasa berjualan sate, urap, ebatan dan lain-lain sehari-harinya. “Kalau bulan puasa memang lebih banyak lagi pembeli yang datang karena mereka sudah tahu disini tersedia berbagai jenis makanan dan jajanan untuk berbuka,” ungkap Inaq Minah.

“Saya biasanya jualan di pasar, tapi kalau puasa begini jualan disini karena ramai orang. Jadi kemungkinan lebih laku,” ujar Pak Gozi pedagang kelapa muda disana.

Sebaliknya Bu Hadna yang datang kesana membeli kue lapis untuk berbuka bersama keluarga, belum berjualan karena masih menyesuaikan kondisi tubuh saat awal berpuasa. Ternyata Bu Hadna ini sehari-harinya berjualan bakso dan mi ayam serta es campur dan juga jajanan lainnya di tempat yang berbeda.

Rejeki Ramadhan juga dinikmati para tukang parkir. Satu dari empat tukang parkir di sini adalah Pak Man. Dia mengatakan bisa mendapat hasil yang sangat lumayan hanya dari pukul 16:30 sampai setelah maghrib. “Saya bisa dapat Rp100-150 ribu hanya dalam jangka waktu tiga jam. Alhamdulillah,” katanya.

Pagutan Permai

Keramaian pasar Ramadhan dipusatkan di lapangan timur masjid Raudatul Jannah, Pagutan Permai. Pemerintah Kelurahan menyediakan 30 lapak bertenda untuk penjual makanan. Namun banyak juga pedagang yang berjualan di atas rombong di luar lapang. Sementara di tengah lapangan ramai dipenuhi penjual mainan dan penjaja wahana mainan anak-anak.

“Yang jualan tidak saja warta Pagutan Permai namun juga dari lingkungan-lingkungan lainnya. Jadi sangat ramai dan lengkap, “ kata Pak Ali yang jualan es kelapa.

Bagi kebanyakan ibu-ibu rumah tangga, keberadaan pasar Ramadhan ini sangat membantu mereka karena bisa membeli makanan dan minuman siap saji di saat mereka menjalani ibadah puasa. “Saya sudah masak di rumah. Saya beli tambahan makanan dan minuman untuk anak-anak,” kata Nadhira, warga Taman Mutiara.

Bagi yang suka jalan-jalan dan makan, layak dicoba dan dikunjungi dua pusat kuliner Ramadhan ini. Bagi yang suka fotografi, ini juga even tahunan yang layak untuk diabadikan sekaligus berburu makanan untuk berbuka puasa. (LI/AA/KM)

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono