Sudah lebih dari 20 tahun Sekarbela menjadi pusat kerajinan mutiara, emas dan perak dengan ratusan perajin dan pengusaha yang terlibat. Sekarbela terkenal sebagai kampung mutiara di kalangan pariwisata karena di sinilah pusat pedagang mutiara berkumpul. Meskipun kini mulai banyak juga pedagang mutiara di daerah Pagutan dan lainnya, Sekarbela tetap menjadi sentra kerajinan mutiara yang utama. Seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, para pedagang mutiara di Sekarbela kini juga melakukan pemasaran secara digital.

“Awalnya kami jualan secara konvensional di toko saja. Namun sejak 2011 kami mulai memanfaatkan media sosial dan online seperti Facebook, Instagram, BBM, WA, website dll untuk mempromosikan produk kerajinan yang kami jual,”  kata H. Mukti, SPd dan Hj. Yanti, istrinya pemilik UD Tazkia yang telah menekuni usaha kerajinan perhiasan mutiara sejak 1997.

Sejauh mata memanda Jl. Sultan Kaharuddin, Sekarbela, bahkan pada gang-gang, dipenuhi toko-toko emas dan mutiara yang mencapai ratusan. Bahan dasar mutiara didapatkan dari para pemasok di Sekarbela. Sedangkan mutiara laut didapatkan dari para pengusaha mutiara di Lombok Tengah dan Sekotong, Lombok Barat.

“Harga mutiara bervariasi tergantung bentuk dan ketebalan permukaan. Kisaran harga adalah mulai dari Rp35.000 sampai dengan Rp1.000.00 per gram mutiara,” lanjut Yanti.

Dengan banyaknya pedagang, tak pelak persaingan pun berlangsung ketat antar pedagang. Meskipun sejauh ini persaingan berjalan dengan sehat. “Tapi kalau mengandalkan tamu yang datang ke toko, tidak akan banyak hasil penjualan kami karena sehari rata-rata hanya puluhan orang yang datang ke toko. Karena itu kami harus melakukan pemasaran secara digital melalui internet. Alhamdulillah setiap hari ratusan orang yang berkomunikasi dengan kami secara digital dan selalu menghasilkan transaksi pembelian,” ujar Hj. Yanti.

Toko UD Sazkia yang kini memiliki enam karyawan yang terdiri dari 1 penjaga toko, 3 orang pengrajin emas, 1 pengrajin perak dan seorang lagi bertugas sebagai ekspedisi. “Pembeli kami dari seluruh Indonesia, tapi yang paling banyak dari Jakarta. Inilah kelebihan pemasaran digital, bia menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Mukti, yang menggunakan website www.tazkia-mutiaralombok.com dan akun Facebook Yanti Tazkia Pearls untuk pemasaran digitalnya. (LI/AA)

H. Mukti dan Hj Yanti, pemilik Tazkia Pearls, Sekarbela.

H. Mukti dan Hj Yanti, pemilik Tazkia Pearls, Sekarbela.

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono