Bendera para peserta lomba berkibar indah disiram sinar matahari.

Bendera para peserta lomba.

Peserta gantole siap lepas landas.

Peserta gantole siap lepas landas.

Peserta paralayang lepas landas.

Peserta paralayang lepas landas.

Seorang peserta paralayang tengah terbang dengan latar belakang pantai yang indah.

Terbang di atas langit yang indah.

Perjalanan kami menuju Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, KSB, guna menyaksikan sebuah Kompetisi Paralayang dan Gantole Internasional terpaksa terhenti di Desa Tapir, di suatu sore November lalu.

Hujan lebat baru saja reda dan banyakmenyisakan patahan ranting pohon yang tumbang di sepanjang ruas jalan menuju Mantar. Panitia menyarankan untuk tidak naik ke Mantar lantaran jalan dipastikan sangat licin dan berlumpur.

Kami mengurungkan niat untuk menginap di rumah penduduk atau camping ground yang telah isiapkan panitia, lalu memutuskan untuk menginap di salah satu hotel di Taliwang.

Jum’at (20/11), pk 04:00 kami bergegas menuju posko panitia di Tapir. Amri, anggota panitia dari Tapir telah menunggu untuk berangkat menuju Mantar. Kendaraan yang kami tumpangi dipenuhi barang-barang, kami membaur diantaranya.

Kondisi jalan masih sangat licin, di beberapa ruas sudah ada proyek pengerasan dengan batu pasir dan di bagian lainnya juga ada pengerasan dengan rabat beton. Namun masih dalam tahap mengerjaan.

Menurut Amri, pengerasan jalan ini adalah program pemerintah KSB guna meperlancar arus transportasi dari atau menuju Desa Mantar.

Di sepanjang jalan kami nyaris terguncang dengan hebatnya, tanjakan curam, jalan berlumpur dan berlubang sedalam 30-40cm. Belum lagi kendaraan yang kami tumpangi harus berhenti saat berpapasan di tikungan mati. Namun di sisi lain, hamparan pemandangan eksotis mulai terlihat ketika kami memasuki gerbang Desa Mantar.

Tak puas menyaksikan hamparan bukit berlapis-lapis dari balik jendela kaca mobil. Salah seorang dari kami meminta Amri untuk berhenti di salah satu titik terindah, di mana kami dapat menyaksikan bentangan alam yang luar biasa.

Bukit-bukit menyembul diantara selimut kabut yang bergerak lambat. Temaram bias cahaya kuning kemerahan menyeruak dari balik bukit. Sajian alam yang benar-benar membuat kami terdiam dan seraya decak kagum di dalam hati. Kamera kami telah merekam semua ini dengan diam.

 

Kompetisi Internasional

Matahari mulai meninggi, kami pun sampai di titik 0; puncak bukit Pamantau, 585mdpl, lokasi take off Kompetisi  Paralayang dan Gantole Internasional. Sebuah even bertajuk ‘Mantar Paragliding West Sumbawa Flying Competition 2015, Fun Play and Charity’ diikuti sedikitnya enam negara Asia dan Eropa dengan menarik perhatian sedikitnya 50an peserta. Negara-negara ini antara lain Indonesia, Malaysia, Rusia, Singapura, Belanda, Inggris, Chili dan Swiss.

Even ini terselenggara atas dukungan penuh PTNNT melalui program CSR, bekerjasama dengan Dinas Pariwisata KSB dan penduduk sekitar. Tak kurang 40 pemuda Mantar dan 20 pemuda Tapir ambil bagian sebagai panitia.

Zaedul Bahri (Deden), Gensupv. SR. PTNNT mengatakan bahwa tahun lalu event ini hanya sebuah angan-angan, tapi hari ini angan-angan itu bisa terwujud. “Ini kado terindah buat KSB di hari ulang tahunnya yang ke 12 dari PTNNT,” tambahnya.

Ada dua sesi penilaian, pertama XC; terbang dan mendarat dengan jarak terjauh, titik target di Desa Sepakek. Tim juri memberi nilai 10 poin untuk yang paling jauh. Lima poin untuk yang sedang dan terdekat, tiga poin. Selanjutnya, ketepatan mendarat dengan top down (KTM); terbang tinggi dan mendarat kembali di lokasi take off dengan ketepatan waktu.

Desa Mantar, diakui para atlet dan tamu undangan memiliki pemandangan yang eksotis bahkan mengalahkan spot terindah yang ada di Peru. Sebelumnya, mereka mengenal Mantar dari sebuah film layar lebar yang sepenuhnya mengambil setting lokasi di Desa Mantar; ‘Serdadu Kumbang’ karya Alenia Pictures yang juga merupakan persembahan PTNNT kepada KSB.

Dalam film Serdadu Kumbang, dikisahkan tokoh Amek dan teman-temannya begitu yakin menggantungkan cita-cita setingi-tingginya dan terbang bebas bak kumbang.

Kini para pemuda Mantar, penduduk sekitar dan banyak tamu dari luar daerah bahkan asing, terbang bebas dan menari-nari di langit Mantar. Event ini senada dengan lirik lagu soundtrack film tersebut; “…terbanglah terbang raihlah mimpi, jangan berhenti terbanglah tinggi, terbanglah, terbang raihlah mimpi, jangan berhenti terbanglah serdadu kumbang.”  (LI/KM)

 

Teks: Komang Ardana

Foto: Ambara Jaya

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono