Gerbang Kota Tua Ampenan

Mataram, Lombokinsider.com – Matarahari sudah mulai terik, sekitar pukul 10:00 wita ketika Lombokinsider.com menelusuri kota Tua Ampenan hingga ke tepi pantai di Jalan Pabean, Ampenan, Rabu (13/7). Bertepatan dengan “Lebaran Topat” tradisi yang telah turun temurun dirayakan oleh warga NTB, seminggu setelah Idul Fitri, terlihat begitu banyak pedagang dan pengunjung yang mulai berdatangan.

“Ya ini sudah tradisi, di mana seminggu setelah Idul Fitri merayakannya dengan makan ketupat bersama keluarga dan handai taulan. Biasanya dilaksanakan di masjid atau musholla di sekitar tempat tinggal masing-masing. Setelah itu pergi tamasya ke tempat-tempat wisata seperti Pantai Ampenan ini,” ungkap Sukri yang sedang berkunjung ke rumah saudaranya di Ampenan.

Gedung-gedung tua di sepanjang jalan Kota Tua Ampenan.

MEMIKAT. Gedung-gedung tua di sepanjang jalan Kota Tua Ampenan.

Sukri datang bersama keluarganya, istri, anak, paman dan bibinya ke Pantai Ampenan untuk menikmati pemandangan pantai dan juga makanan yang banyak dijual di sepanjang pantai. “Kebetulan ada keluarga saya di sini. Kalau saya dari Lombok Tengah. Setelah dari sini rencana kami akan ke Kerandangan, Senggigi,” jelas Sukri.

Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga-keluarga yang lain, mengunjungi pantai Ampenan untuk bersantai bersama keluarga sekaligus menikmati pemandangan pantai yang merupakan kota pelabuhan pada masa Belanda.

Lain halnya dengan Jamal salah seorang tukang parkir. Dia mengatakan bahwa jika hari biasa pantai ini selalu ada pengunjung 20-50 motor ditambah mobil dalam sehari. Namun pada saat seperti lebaran topat dan tahun baru pengunjung bisa mencapai ratusan orang dan kendaraan. “Alhamdulillah pendapatan kami meningkat drastis kalau pas ada acara-acara seperti ini. Kami tukang parkir berasal dari kampung sekitar pantai dan hasil parkirnya kami bagi-bagi bersama,” kata Jamal.

Berharap pada Pariwisata

Sementara itu Syamsul Rizal yang merupakan salah seorang pengelola mengatakan bahwa untuk sementara ini kawasan pantai dikelola bersama. “Kami bersama-sama mengelola dan hasilnya juga untuk keperluan bersama. Kalau untuk kebersihan ada bantuan dari Pemkot Mataram, petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Pemkot Mataram juga menyediakan panggung hiburan yang akan dimulai siang menjelang sore,” jelas Syamsul.

“Ampenan dimulai dari Jl. Saleh Sungkar, Yos Sudarso, Pabean, Niaga dan Koperasi. Di masa Belanda hingga sekitar 1979, dermaga di pelabuhan Ampenan digunakan sebagai tempat orang berangkat haji dan bongkar muat barang dagangan. Tapi sekarang cuma patok-patok besinya yang tersisa setelah pelabuhan dipindah seluruhnya ke Lembar,” jelas Syamsul dan Jamal yang sudah turun temurun tinggal di Ampenan.

“Dulu Ampenan sangat maju sebagai kawasan perdagangan. Semoga dengan kemajuan industri pariwisata, Ampenan bisa maju lagi seperti dulu,” kata Syamsul Rizal.

RAMAI. Pengunjung memadati pantai Ampenan pada hari-hari raya dan liburan.

RAMAI. Pengunjung memadati pantai Ampenan pada hari-hari raya dan liburan.

Kawasan Multi Etnis

Ampenan merupakan daerah yang multi etnis. Ada kampung Tionghoa, Bugis, Melayu, Jawa, Arab dan Bali di sini. Masyarakatnya sangat heterogen namun hidup rukun. Kekhasan ini pula yang menjadi salah satu daya tarik Ampenan selain pelabuhannya yang memiliki kekayaan historis.

Penataan destinasi wisata pantai Ampenan yang dilakukan Pemkot Mataram dan Dinas Pariwisata NTB beberapa waktu lalu memang terlihat jelas membuat daerah sekitar pantai terlihat lebih rapih, bersih dan indah.

“Rencananya pada Agustus 2016 ini, BP2KM akan mengadakan Festival Minum Kopi, yang akan dilaksanakan di Jalan Pabean Ampenan hingga ke tepi pantai. Jadi nanti sepanjang akan dipenuhi pedagang kopi dan juga jajanan, hal ini untuk mempromosikan produk kopi lokal yang saat ini mulai banyak dikenal dan dinikmati penggemar kopi,” jelas Yusri Arwan ketua BP2KM beberapa waktu lalu.

 

Pewarta: Agus Apriyanto

Penyunting: Kasan Mulyono

About Author: Kasan Mulyono
Writer. Lecturer. Ph.D in Economics. Mine worker. PR veteran. Casual cyclist. Father of 4. Husband to Kartina. Moslem. Lives in Lombok & West Sumbawa, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: KasanMulyono2015 Email: k_mulyono@yahoo.com Twitter: KasanMulyono Instagram: KasanMulyono