Mataram, LombokInsider.com – Menjadi salah satu destinasi wisata dan spot fotografi khususnya di malam hari, itulah yang dialami Jembatan Gantung di Cemara, Kota Mataram. Hal ini setelah Pemerintah Kota Mataram berinisiatif melakukan peremajaan Jembatan Gantung agar bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat dengan tetap menjaga nilai sejarahnya.

Generasi muda saat ini (Kids Jaman Now) menjadikan jembatan ini sebagai destinasi wisata dan spot fotografi di malam hari, dengan gemerlap lampu di hampir seluruh badan jembatan memang sangat menarik dan indah untuk diabadikan, apalagi dari kejauhan juga tampak menara masjid Hubbul Wathan, Islamic Center, Mataram.

Pengunjung yang kebanyakan memang dari kalangan anak muda, tidak hanya datang dari Kota Mataram dan sekitarnya, bahkan ada yang dari luar kota. “Kami berlima sengaja datang dari Gerung, main ke Mataram dan berfoto-foto di jembatan ini,” ujar Gilang Ramadhan, remaja tanggung yang mengaku berasal dari Gerung, Lombok Barat.

Dengan kemajuan teknologi dan media sosial yang ada, saat ini keberadaan jembatan ini menjadi viral, khususnya bagi pengguna Instagram. Apa yang mereka lakukan dengan berfoto lalu menguploadnya ke akun Instagramnya menjadi promosi gratis bagi jembatan gantung ini. Terlihat dari animo warga yang cukup tinggi untuk berkunjung ke jembatan gantung ini, bahkan wisatawan domestik dan mancanegara juga tampak mengunjungi dan mengabadikannya.

Peremajaan jembatan yang menelan dana hingga Rp595 juta pada 2012 lalu, dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk dan fungsi aslinya yang penuh sejarah, namun dengan material yang lebih kuat dan berkualitas.

Jembatan gantung yang merupakan jembatan peninggalan Jepang ini berada di Kelurahan Karang Baru. Peremajaan yang dilaksanakan agar dapat menunjang pertumbuhan kepariwisataan di kota bermotokan Maju, Religius dan Berbudaya ini.

Jembatan ini merupakan satu-satunya sarana yang menghubungkan antara wilayah Cemara dan Karang Baru. Hal ini mengingat waktu itu kedua wilayah ini masih dikelilingi areal sawah yang cukup luas yang dibatasi oleh kali Jangkuk. Waktu itu, belum banyak masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor. Karenanya jembatan ini merupakan jalan penghubung yang paling efektif bagi pejalan kaki warga Mataram tempo dulu. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com