Mataram, LombokInsider.com – Polemik masalah beroperasinya ojek di Gunung Rinjani yang telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir mendatangkan pro dan kontra dikalangan netizen, baik pecinta alam maupun masyarakat umum yang peduli akan kelestarian Gunung Rinjani.

Dilihat dari keberadaannya disatu sisi ojek dirasakan sebagai kemudahan bagi beberapa pendaki yang memang kurang sehat atau tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan, baik ketika naik maupun saat turun gunung.

Namun dilihat dari sisi sensasi petualangan, keberadaan ojek cukup mengganggu. “Ini karena mereka menggunakan jalur yang sama dengan kami para pendaki, suasana petualangannya jadi hilang,” ujar Sukarno, yang hampir setiap minggu ke puncak Rinjani.

“Selain mengganggu karena tidak ramah lingkungan, hal ini dapat mempengaruhi keberadaan porter yang menggantungkan hidupnya dari jasa mengangkut barang para pendaki,” lanjut Karno, panggilan akrab pemilik toko oleh-oleh khas Rinjani, PASIR.

OJEK. Keberadaan Ojek di Jalur Pendakian Gunung Rinjani, Dirasakan Mengganggu oleh Beberapa Pendaki, Karena Tidak Ramah Lingkungan. (foto: Sukarno)

Karno berpendapat jika memang hal ini diijinkan oleh pihak berwenang, sebaiknya dipertimbangkan untuk menggunakan tenaga kuda. Bahkan ia melihat kegiatan para ojek ini sudah maju, naik hingga pos 3, tidak seperti sebelumnya yang hanya sampai pos 2.

“Kalo pakai kuda lebih ramah lingkungan, tapi tetap saja berpengaruh terhadap para porter, karena jasa digantikan kuda, itupun mungkin jalurnya harus dibedakan,” ucapnya.

Terkait hal ini, pihak Dispar NTB dan juga Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) khususnya, sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung terhadap pengelolaan Gunung Rinjani diharapkan dapat segera mencarikan solusi terbaik bagi semua.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL. Moh. Faozal pihaknya memang telah dihubungi oleh TNGR terkait masalah ini. “Saya sudah mendapat laporan terkait hal ini dan hasil investigasi sementara ini murni masalah tukang ojek yang berasal dari daerah sekitar dan memang mencari nafkah,” jelas Faozal di kantornya.

“Perwakilan ojek juga mengatakan niat mereka semata-mata hanya ingin membantu beberapa pendaki yang memang ingin menikmati keindahan Gunung Rinjani tapi secara fisik tidak kuat,” kata Kadispar, berdasarkan laporan Kepala TNGR.

Menurut Faozal berdasarkan laporan, jumlah ojek ini baru sekitar 5-7 orang, namun dari informasi beberapa pendaki yang terakhir naik ke Gunung Rinjani, jumlahnya diperkirakan telah mencapai 10 orang.

Pada kesempatan tersebut, Kadispar NTB menegaskan bahwa pihaknya dan TNGR serta perwakilan para ojek sudah mengagendakan pertemuan dalam waktu dekat, sehingga segera ditemukan solusi terbaik bagi semua pihak.

“Semoga dalam waktu dekat kami dapat bertemu bersama, untuk mencari solusi terbaik dalam masalah ini,” tegas Faozal. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com