Lotim, LombokInsider.com – Jika bosan dengan wisata yang itu-itu saja, anda ingin mencoba pengalaman baru dengan berkunjung ke destinasi wisata yang belum banyak diketahui wisatawan, ini dia tempatnya. Kite Surfing Kaliantan namanya, objek wisata baru ini terletak di Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai ke lokasi ini, jika dari Kota Mataram. Kite surfing atau selancar layang merupakan variasi wisata olahraga yang cukup unik dengan menggabungkan penggunaan sebilah papan dan sebuah parasut yang digerakkan dengan hembusan angin.

Tampak Seorang Wisatawan Sedang Mencoba Kite Surfing di Kaliantan.

Tampak Seorang Wisatawan Sedang Mencoba Kite Surfing di Kaliantan.

Lalu Putradi (36), sebagai penggagas Kite Surfing Kaliantan, mengatakan, idenya bermula saat dia itu sedang mengantar wisatawan asing ke Kawasan Pantai Kaliantan. “Tanpa sengaja, ketika tiba disana kami mendapatkan angin yang menurut si wisatawan sangat cocok untuk kite surfing,” kisah Putradi, Jumat (28/10). Hal ini yang membuatnya memutuskan untuk mengadakan olah raga kite surfing ini di Kaliantan dua tahun lalu. Keunggulan Kite Surfing Kaliantan dibanding tempat lain di Lombok ialah garis pantai yang luas dan panjang mencapai tujuh kilometer. Selain itu, hembusan angin di Kaliantan juga memiliki rentang waktu terlama hingga tujuh bulan, biasanya sejak Maret hingga Oktober, atau lebih lama dibanding kawasan pantai lain di Lombok.

Hingga saat ini, menurutnya jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 200 orang yang seluruhnya wisatawan asing dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Jerman, Italia dan Perancis, kebanyakan mereka membawa sendiri peralatan untuk kite surfing. Bagi yang tidak membawa peralatan, pihaknya juga menyewakan peralatan kite surfing sebesar US$70 atau sekitar Rp911.330,- selama tiga hari dengan durasi dua jam per hari. Mereka (para wisatawan, red) menilai Pantai Kaliantan memiliki salah satu angin terbaik di Asia.

Arah angin dari laut ke pantai atau on shore dengan kecepatan berkisar 18 knot sampai 25 knot juga menjadi kelebihan lain di Kaliantan sehingga dari sisi keselamatan lebih terjamin dibanding pantai yang memiliki arah angin sebaliknya atau off shore. Kondisi ombak di Kaliantan juga cukup bervariasi, dengan tingkatan skala kecil hingga yang mencapai 700 meter. Hal ini tentunya mengakomodir para pengunjung dari yang pemula hingga profesional.

Wisatawan Asing Sangat Menggemari Olahraga ini, Apalagi dengan Angin yang Stabil.

Wisatawan Asing Sangat Menggemari Olahraga ini, apalagi dengan Dukungan Angin yang Stabil.

Putradi mengaku pihaknya juga menyiapkan Kaliantan Paradise Bungalow Retreat yang bisa dimanfaatkan para peselancar untuk bermalam. Mengingat masih merintis, baru tersedia tiga kamar dengan tarif yang fleksibel. Kebanyakan para peselancar lebih memilih mendirikan tenda di sekitar pantai untuk bermalam. Bagi mereka, yang terpenting bisa menikmati Kite Surfing dengan panorama alam pantai Lombok yang begitu indah.

“Mereka nggak peduli (penginapan), yang penting mereka main, ada yang dari Pantai Kuta (Lombok) bolak-balik,” ungkap Putradi. Sebagai destinasi baru yang belum familiar, ia tidak menampik masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Misalnya, akses menuju lokasi wisata, dimana masih banyak ditemui jalan berlubang. Seperti kita ketahui bersama saat ini, Lombok sudah menancapkan diri sebagai salah satu tujuan destinasi utama bagi wisatawan. Beragam objek wisata tersaji indah, mulai dari kemolekan Pantai Senggigi di Lombok Barat, hingga eksotisnya tiga Gili di Lombok Utara, yang tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan.

Dia berharap, agar pemerintah daerah khususnya Pemkab Lombok Timur memberikan perhatian lebih dari sisi infrastruktur dan keamanan. Menurutnya, sektor pariwisata di Lombok Timur masih berjalan sendiri-sendiri, meski potensi alam dan wisata Lombok Timur tidak kalah dengan wilayah lain di Pulau Lombok. Sinergitas antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kata kunci dalam pengembangan pariwisata Lombok. (LI/SP/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com