Giri Menang, LombokInsider.com – Jika bisa melihat dan memanfaatkan potensi yang ada, apapun bisa dijadikan objek wisata. Hal ini dapat dilakukan kepada Jembatan Gantung Nyiur Lembang, yang berada di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jambatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, yang dulunya adalah wilayah Desa Jambatan Kembar namun beberapa tahun lalu resmi pisah dari Desa Induk.

Potensi Destinasi Wisata

Sejak setahun terakhir, jembatan yang menjadi saksi sejarah jaman penjajahan Belanda ini, sering dikunjungi oleh anak-anak muda yang selalu ingin mencari suasana baru untuk refreshing dan berswafoto.

Sabtu dan Minggu sore merupakan hari yang biasa di manfaatkan untuk berkunjung, bisa dikatakan saat ini Jembatan Gantung Nyiur Lembang sudah menjadi destinasi wisata baru di Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar).

Dengan perkembangan teknologi informasi sudah demikian majunya, dimana hampir setiap orang bermain media sosial seperti Facebook (FB), Instagram (IG) dan lainnya yang berbasis fotografi, tentunya sangat membantu mempromosikan tempat-tempat seperti ini yang tergolong anti mainstream.

Saksi Sejarah

Menurut cerita, Jembatan Nyiur Lembang ini dibangun pada masa penjajahan Belanda, namun hingga kini masih cukup terawat dan bersih. Jembatan ini menghubungkan tiga desa yakni, Desa Jambatan Gantung,Kebon Ayu dan Mesangguk, Kecamatan Gerung.

Selain menjadi penghubung antar desa ternyata jembatan ini juga dipakai sebagai Jembatan penyebrangan air untuk para petani mengairi lahan persawahan milik warga Dusun Nyiur lembang ,Teluk Sepang, Beroro hingga sampai Dasan belo dan Dusun Batu rimpang.

Namun, sejak beberapa tahun terakhir jalan pintas ini sudah tidak dilalui kendaran roda empat lagi karena ditakutkan jembatan yang sudah tua ini akan roboh karena besi-besinya sudah terlihat berkarat disisi kiri kanan.

Keberadaannya seakan-akan menegaskan sisa-sisa kekuasaan Belanda pada masa penjajahan. Menurut keterangan penduduk sekitar, pada masa pembangunannya, jembatan ini banyak menelan korban harta dan nyawa warga pribumi khususnya suku sasak pada masa itu.

Semoga kedepannya pihak Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar), dapat melihat potensi dari keberadaan Jembatan Nyiur Lembang ini. Selain latar belakang sejarahnya, jembatan seperti ini dapat dijadikan destinasi wisata yang dapat dijual.

Melihat keadaannya sekarang, sangat perlu dilakukan renovasi atau pembenahan terhadap kekuatan dari besi-besi dan tali kawat penyangganya, yang mulai termakan usia oleh karat. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com