Jakarta, LombokInsider.com – Ribuan pengujung memadati halaman Tugu Monas Jakarta Pusat saat Car Free Day (CFD), Ahad kemarin (15/7) sejak pukul 06:00. Sebagian besar mereka merupakan warga Bima-Dompu yang berada di kawasan Jabodetabek yang akan mengikuti Festival Rimpu. Mereka rata-rata menggunakan sehelai kain warna-warni.

Perhelatan ini menjadi daya tarik dan menyedot perhatian masyarakat umum di Jabodetabek yang hadir di CFD. Selain itu, terlihat banyak ambassador atau perwakilan dari luar negeri juga turut hadir. Seperti Yaman, Maroko, Mesir, Iran, Qatar, Surian, Brunai, Vietnam dan Thailand. Bahkan anak mantan Presiden RI, Guruh Soekarnoputra, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva dan beberapa tokoh-tokoh lainnya.

Rimpu menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung. Satu digunakan untuk bagian atas (kepala) dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah (badan hingga ujung kaki). “Rimpu ini melambangkan syar’i dalam agama islam di Bima-Dompu sejak dahulu,” kata Sesepuh Paguyuban Masyarakat Perantau Bima-Dompu NTB di Jabodetabek Harun Al Rasyid.

Kain indah tersebut disebut dengan tembe nggoli atau kain tenun. Tembe nggoli atau kain tenun ini khas warga mbojo, Bima-Dompu. Pagi itu tembe nggoli digunakan sebagai Rimpu, jilbab tradisional khas warga mbojo. Sesepuh Paguyuban Masyarakat Perantau Bima-Dompu NTB di Jabodetabek Harun Al Rasyid mengungkapkan Rimpu merupakan bagian dari budaya unik yang hanya ada di Bima-Dompu.

Salah seorang penggerak sosial budaya muda asal Bima, Zulhaidin menuturkan, penggunaan Rimpu dimulai sekitar 1640. Saat itu Sultan memberikan syarat sunat pada lelaki dan menutup aurat pada perempuan. Pada masa itu masyarakat masih banyak menganut paham animisme dan dinamisme, dimana bagian atas perempuan masih telanjang. “Sama seperti Lombok dan Bali saat itu,” tuturnya.

Saat itu sultan meminta perempuan untuk menggunakan sarung dobel untuk bagian atas dan bawah. Kain tersebut dikenal dengan sebutan tembe. Tembe saat itu merupakan kain pintal dari benang kapas. Namun seiring berjalannya waktu, tembe jenis ini mulai susah untuk didapatkan sehingga beralih ke kain wol. “Setiap kecamatan punya motif berbeda,” jelas Zulhaidin.

Jumlah warga mbojo yang mengikuti Festival Rimpu Bima-Dompu diperkirakan mencapai 5.000 lebih orang. Festival tersebut tidak hanya mengadakan pawai rimpu. Namun juga menampilkan beberapa atraksi seni budaya seperti tarian, pencak silat, hadra, ntumbu tuta, biola Bima, bazar kuliner dan pameran wisata daerah Bima-Dompu. Selain untuk menunjukan eskistensi pada dunia, perhelatan akbar yang pertama kali di gelar ini juga untuk menyambung tali silaturahmi dan mengobati rasa kangen perantau Bima-Dompu di Jabodetabek.

Sekretaris Daerah NTB, Rosyadi H. Sayuti berpesan kepada perantau Bima-Dompu di Jabodetabek untuk terus menjaga nama baik daerah asal dan selalu mengingat budaya Rimpu. Ia juga berharap agar masyarakat Perantau Bima-Dompu di Jabodetabek tetap mendapatkan kenyamanan dan kesejahteraan. “Dimanapun kita berada kita harus tetap ingat asal kita,” pesan Sekda. (LI)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com