Tanjung, LombokInsider.com – Masih dalam rangkaian Bulan Pesona Lombok Sumbawa (BPLS) 2017, Dinas Pariwisata NTB berkoordinasi dengan Pemkab Kabupaten Lombok Utara (KLU), menggelar acara Festival Gili Tramena, Gili Begawe, menyambut kedatangan peserta Wonderful Sail Indonesia ke-2, di Dermaga Marina, Desa Medane, Tanjung, Lombok Utara, pada Selasa (12/9).

Festival Gili Tramena

BEGIBUNG. Tampak Para Peserta Wonderful Sail Indonesia ikut Menikmati menu dan Cara Begibung, khas Lombok.

“Ada yang istimewa pada pelaksanaan Festival Gili Tramena kali ini, karena kita juga menyambut kedatangan delegasi sail yacht (kapal pesiar berlayar) dari 15 negara yang mengikuti Wonderful Sail Indonesia ke-2, 2017. Selain itu juga merupakan rangkaian dari kegiatan BPLS 2017, mulai besok mereka akan mengunjungi destinasi-destinasi yang ada di KLU, seperti Senaru, Bayan, Gili Trawangan dan Meno, serta yang lainnya,” kata HL. Moh. Faozal, Kepala Dinas Pariwisata NTB, pada laporannya.

Faozal menambahkan ini dapat menjadi ajang promosi bagi wilayah KLU, karena para peserta yang terdiri dari 15 negara ini tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan destinasi yang ada di KLU. Selain itu efek domino dari singgahnya para wisatawan yang mencapai ratusan orang ini untuk beberapa hari di KLU tentu berdampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.

“Jika masyarakat dapat melihat potensi ini, tentunya akan berdampak positif bagi perekonomian mereka. Karena para peserta sail ini akan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka sebagai persediaan selama beberapa hari diatas kapal,” lanjut Faozal.

Keindahan Destinasi di KLU

Senada dengan Kadispar, Bupati KLU, DR. Najmul Akhyar merasa sangat bangga daerahnya di singgahi peserta Wonderful Sail Indonesia ini. “Atas nama masyarakat Lombok Utara, sangat bersyukur dapat menjadi salah satu tempat dari 17 titik persinggahan pserta Wonderful Sail Indonesia, selama melintasti perairan Indonesia,” ujar Bupati KLU ini.

Namun menurut Najmul, waktu mereka yang sangat singkat tentunya tidak cukup untuk dapat menikmati semua keindahan destinasi di KLU. “Tidak akan cukup jika hanya singgah beberapa hari saja disini, karena sangat banyak potensi wisata yang dapat dinikmati peserta yang datang,” lanjutnya.

Lombok Utara memang sangat terkenal dengan bermacam keindahan destinasi wisata, dari mulai pantai, lembah, gunung dan juga air terjun, serta Gili Tramena (Trawangan, Meno dan Air) yang namanya sudah sangat mendunia. Selain itu keragaman seni dan budaya serta keramahan masyarakat juga menjadi poin lebih dari KLU.

KEBERSAMAAN. Para Peserta Wonderful Sail Indonesia, Foto Bersama Bupati KLU dan Kadispar NTB, Selasa (12/9), di Medana, Tanjung, KLU.

Demikian halnya dengan Andrew dari Miranda Boat, salah seorang peserta yang diberi kesempatan untuk memberikan testimoni. “Kami sangat senang bisa berada disini, terima kasih atas keramah tamahan dan penyambutannya yang luar biasa ini. Merupakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan karena pernah singgah di salah satu tempat terindah di dunia,” ucapnya singkat.

Apalagi sebelumnya 150 orang peserta yang antara lain berasal dari Amerika, Italia, Swiss, Prancis, Jerman, Inggris, Turki dan lainnya ini telah di hibur dengan berbagai kesenian dan budaya khas Lombok, seperti Gendang Beleq, Tari Rudat, Main Gasing dan cara makan Begibung. Para peserta tampak sangat terhibur, terutama saat diajak Begibung bersama Bupati KLU dan masyarakat.

Potensi Bahari Indonesia

Sementara itu Raymond T Lesmana, dari Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari, Kementrian Pariwisata RI, mengatakan potensi kelautan yang ada di Indonesia belum dioptimalkan.

“Pengembangan wisata kapal layar di Indonesia tak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik berupa pelabuhan wisata. Namun, pengembangan wisata tersebut juga perlu mengikutsertakan manajemen sumber daya manusia lokal, kontrol oleh pemerintah daerah dan strategi pemasaran ke pasar mancanegara,” jelasnya.

“Padahal dengan potensi yang ada kita bisa membuat mereka para peserta sail ini untuk berada lebih lama di wilayah Indonesia dan membelanjakan uangnya, sehingga akan terjadi dampak langsung terhadap perekonimian masyarakat setempat dimana mereka menyandarkan kapal pesiar berlayarnya,” tegas Raymond.

“Pemerintah, dari pusat, provinsi maupun daerah harunsya bisa melihat hal ini. Setiap tahun sebenarnya ada sekitar 5000 kapal pesiar berlayar yang keliling dunia, termasuk Indonesia. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan hal ini, karena mereka hanya berada di wilayah perairan Indonesia selama 90 hari atau Juli-September saja,” pungkasnya. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com