Sumbawa Besar, LombokInsider.com – Sementara dari ujung Timur Sumbawa yakni Kecamatan Tarano, menyuguhkan tema Karaeng Baenea Binamu yang merupakan cerita kesultanan Sumbawa pada masa pemerintahan Sultanah Syafiatuddin Daeng Massihi – Sultan Sumbawa pada 1791-1795, mendaratlah beberapa buah perahu di Empang. Perahu tersebut ternyata membawa seorang yang dikenal sebagai Karaeng Baenea Binamu (Permaisuri Raja Binamu-Jeneponto Sulawesi Selatan). Kedatangan bersama putri dan putranya beserta pengawal dan dayang maupun penjahit setianya ke kesultanan Sumbawa dikarenakan terjadinya proses suksesi yang menyalahi aturan 1 tahun adat di kerajaan Binamu yang dipimpin oleh Suaminya Karaeng Binamu. Dengan kebijakan Sultanah Sumbawa saat itu, permaisuri Binamu dan pengikutnya diberikan lahan garapan dan lahan perkebunan di Bonto dan Unter Malang.

Lala Menir Raboran menjadi tema dari kecamatan Moyo Hulu pada Pawai Budaya, kisah ini merupakan cermin wanita idaman yang menjadi rebutan para pangeran seperti Pangeran Jawing Panotang, Samulan dan Ai Beling. Untuk menghindari pertumparan darah atas dasar keadilan, putri meminta kepada ayahnya Datu Raboran untuk dikubur hidup-hidup. Setelah penguburan selesai terjadilah bencana yang sangat dahsyat. Penduduk yang selamat dari bencana memutuskan pindah ke Ai Ampuh. Tak lama kemudian mereka pun pindah ke sebasang (Sama pasang/mirip,red) dan semamung (sama mamung/ bau yang sama, red).

Prosesi Biso Tian Pade merupakan sebuah prosesi ungkapan rasa syukur atas berkah dan keberhasilan panen petani, menjadi tema dari kecamatan Alas Barat. Pada saat Pawai kontingen alas barat menyerahkan hasil panen pada Bupati Sumbawa dan Wakil Bupati Sumbawa. Lembang Paroso yang merupakan seorang pejuang tana samawa di samping Baham dan La Undru Sinrang Dea Mas Manurung. Lembang merupakan seorang tokoh pemberani yang berjuang menegakkan keadilan atas penguasaan penjajah ditana samawa.

Bija Lempe adalah nama sebuah keris pusaka yang dianggap bertuah, diangkat oleh kecamatan Lape, kisah Bija Lempe ini berawal dari serangan dari seberang dipimpin raja sakti bernama pangeran Gagak. Penguasa Tana Samawa itu terbunuh, sedangkan permaisuri yang dalam keadaan mengandung menyelamatkan diri ke kerajaan Ngali. Pelarian permaisuri menyelematkan diri melahirkan nama-nama yang sampai sekarang di kenal di kecamatan lape seperti Orong Selong, Unter Sekoyong, Batu Payung dan Maja. Permaisuri meminta pertolongan pada Dea Ngampo, dibawah perlindungan Dea Ngampo lah putranya lahir dan menjadi seorang sakti serta memimpin Sumbawa dengan adil dan benar.

Kecamatan Sumbawa yang menjadi tempat perhelatan Festival Moyo mengangkat hikayat Tanjung Munangis, dimana pada kisah ini dilatari kehidupan istana Sumbawa yang sesungguhnya merupakan tamsil tentang pentingnya seorang pemimpin untuk menepati janjinya. Kisah Romeo and Juliet versi Sumbawa diangkat oleh kecamatan Alas. Dimana kisah romantis antara Lalu Diya Bangsawan Alas dengan Lala Jinis Putri Datu Seran adalah kisah yang sangat terkenal dalam masyarakat Sumbawa. Penuh liku dan perjuangan dan berakhir dengan kebahagiaan.

Arak-arakan pengantin dalam prosesi perkawinan Sumbawa biasa dikenal dengan Pangantan Nginring diangkat oleh kecamatan Lopok. Sementara kecamatan Badas mengangkat cerita Habib Sayyid Al-Muhdholli yakni kisah perjuangan seorang ulama Timur Tengah yang datang sebagai penyebar Islam pada awal abad ke-14 di Tana Samawa. Perjuangannya sebagai seorang ulama besar, telah menguatkan Islam di Tana Samawa. Makamnya masih dapat ditemui di pekuburan massa Labuhan Sumbawa dan dikeramatkan.

Kecamatan Lunyuk yang berada di Selatan Sumbawa mengangkat cerita Salendang Pabiring, sebuah kisa berlatar belakang kehidupan pesisir selatan Sumbawa, tentang seorang istri yang ditinggal oleh sang suami pergi berlayar. Sang suami meninggalkan selembar selendang sebagai tanda cinta dan kesetiaan kepada sang istri sebagai lambang kisah kasih saying dan kesetiaan diantara keduanya. Selama suami dirantau istri tetap memelihara selendang sebagai tanda cinta mereka sesuai amanat sang suami. Meski hingga akhir hayatnya suaminya tak pernah kembali.

Pacera Samba atau ritual penyucian benda pusaka (cera, Sumbawa red) keris Pusaka ‘Samba’yang merupakan keris keramat yang digunakan oleh Baso Lalu Malaranggeng dia Busing Keramuh ling Makasar, seorang panglima perang kesultanan Sumbawa dimasa pemerintahan Riwabatang Dewa Meppaconga Mustafa 1665-1675. Menjadi sisi lain yang diangkat Kecamatan Plampang. Pemilik Keris Pusaka Samba ini berjuang menegakkan keadilan dan marwah tau tana samawa di tana Mengkasar (Makasar, red) Goa karena perbuatan melanggar hukum Datu Jereweh yang bekerjasama dengan Belanda atau tu malompoa.

Baso Lalu Malaranggeng dea Busing Keramuh ling Makasar juga terkenal dengan nama datu Museng dengan istrinya yang terkenal dengan Maipa Daeng Ke Nang atau Maipa Dea Pati. Keris yang dipulangkan melalui sebatang Gedebong pisang inilah yang dipelihara oleh pewarisnya di Plampang hingga saat ini. (LI)

 

Pewarta: Lukmanul Hakim

Penyunting: Agus Apriyanto

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com