Sumbawa, LombokInsider.com – Barapan Kebo merupakan adat tradisional masyarakat Sumbawa yang biasanya diselenggarakan pada awal musim tanam padi. Para Sandro, Joki dan Kerbau terbagus saat tiba musim tanam Sumbawa, selalu berkumpul untuk melaksanakan kegiatan ini. Tradisi Barapan Kebo diselenggarakan oleh hampir seluruh daerah di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), karena memang merupakan warisan leluhur dan telah menjadi even budaya khas Sumbawa, yang sering diadakan untuk meramaikan acara-acara adat maupun seremonial di Sumbawa.

Penyerahan Hadiah kepada pemilik pasangan Kebo Barapan
 oleh Bupati Sumbawa H.M.Husni Djibril, B.Sc.

Penyerahan Hadiah kepada pemilik pasangan Kebo Barapan
 oleh Bupati Sumbawa H.M.Husni Djibril, B.Sc.

Tradisi Barapan Kebo

Lokasi atau arena Barapan Kebo adalah sawah yang telah basah atau sudah digenangi air sebatas lutut. Kerbau-kerbau peserta dikumpulkan 2 atau 3 hari sebelum even budaya ini digelar, untuk diukur tinggi dan usianya. Hal ini dimaksudkan, agar dapat ditentukan dalam kelas apa kerbau-kerbau tersebut dapat dilombakan. Durasi atau lamanya even adalah ditentukan dari seberapa banyak Kerbau yang ikut dalam even budaya Barapan Kebo ini. Hal yang membuatnya jauh berbeda dari Karapan Sapi Madura atau Mekepung di Bali adalah pentas para sandro adu ilmu dan para joki adu kumbar, saat “Sakak” atau tongkat magis Sandro Penghalang dapat tersentuh oleh kekuatan lari sang kerbau dengan bantuan Sandro joki dan kerbau peserta. Pasangan kerbau yang berhasil meraih juara adalah pasangan kerbau tercepat mencapai tujuan, sekaligus dapat menyentuh atau menjatuhkan kayu pancang tanda finish yang disebut dengan Sakak tersebut

Ada beberapa istilah unik yang digunakan pada aksesoris dan momen budaya Barapan Kebo diantaranya, ‘Noga’ yang merupakan kayu penjepit leher penyatu sepasang Kebo, ‘Kareng’ adalah tempat berdiri atau bilah pijakan kaki sang joki barapan yang dirakit berbentuk segitiga, ‘Mangkar’ yakni pelecut atau pecut pemacu Kerbau, ‘Sandro’ adalah sebutan untuk orang-orang dengan ilmu supranatural ala sumbawa dengan pakaian khas berwarna serba hitam, ‘Lawas’ yaitu lantunan syair pantun daerah Sumbawa, ‘Ngumang’ adalah sesumbar kemenangan sebagai pemikat wanita penonton barapan dan merayu-rayu dengan lantunan lawas yang dikuasainya.

Penutupan Fesmo 2016

Atraksi Barapan Kebo juga sering dilaksanakan pada acara besar bertaraf nasional bahkan internasional seperti yang baru saja usai, yakni Festival Moyo (Fesmo) 2016. Puncak Fesmo 2016 yang telah lalu menampilkan atraksi Barapan Kebo yang telah mendunia, digelar sebagai penutup seluruh rangkaian acara, dipusatkan di areal pertanian Desa Tengah Kecamatan Utan selama 2 (dua) hari 15-16 Oktober 2016. Sebanyak 420 pasang kerbau ikut ambil bagian, dari seluruh penjuru Sumbawa dan Sumbawa Barat untuk berlomba menjadi yang terhebat dan tercepat pada penutupan Fesmo 2016.

Wakil Ketua DPR RI H.Fahri Hamzah, Bupati Sumbawa 
H.M.Husni Djibril, dan Beberapa Pejabat Daerah
 lainnya Bersama para Pemenang Barapan Kebo
 Fesmo 2016.

Wakil Ketua DPR RI H.Fahri Hamzah, Bupati Sumbawa 
H.M.Husni Djibril, dan Beberapa Pejabat Daerah
 lainnya Bersama para Pemenang Barapan Kebo
 Fesmo 2016.

“Kami ucapkan selamat berlomba dan bertanding agar menjadi tontonan menarik bagi tamu dan wisatawan,” kata Bupati Sumbawa H.M.Husni Djibril, B.Sc saat membuka Barapan Kebo (15/10). Lomba Kerbau berlari di arena persawahan berlumpur ini sangat menarik minat para pengunjung. Bahkan para pejabat seperti. Kapolres Sumbawa AKBP Muhammad, SIK, Kajari Sumbawa Paryono, SH, MH, Dandim 1607 Sumbawa Letkol Art. Sumanto, S.Sos, Wakil Ketua DPRD Sumbawa H.Ilham Mustami, S.Ag dan Kamaluddin, ST, M.Si, Anggota DPRD Sumbawa Berlian Rayes, S.Ag serta beberapa wisatawan asing lain juga ikut serta sebagai joki dalam lomba yang dapat memacu andrenalin ini.

Para penggemar, pemerhati peternakan antara lain Prof. Muladno Guru Besar Peternakan IPB dan para pejabat lainnya terlihat sangat antusias menyaksikan jalannya lomba di hari pertama, demikian pula pada hari ke-2, masyarakat semakin membanjiri arena persawahan di Desa Tengah, Kecamatan Utan bahkan Wakil Ketua DPR RI, H. Fahri Hamzah juga turut berbaur dengan masyarakat menyaksikan sensasi Barapan Kebo hari terakhir ini. “Saya sangat bangga, bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menyukseskan Festival Moyo 2016 terutama menjadikan Barapan Kebo sebagai puncak acara di Festival Moyo 2016,” ungkap Bupati Sumbawa pada penutupan Fesmo, Minggu (16/10). “Semoga Festival Moyo mendatang akan dikemas semakin baik dan professional sehingga mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Sumbawa,” pungkas Bupati. (LI)

 

Pewarta: Lukmanul Hakim

Penyunting: Agus Apriyanto

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com