Taliwang, LombokInsider.com – Barapan Ayam merupakan salah satu permainan yang telah menjadi tradisi rakyat Kabupaten Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar. Permainan yang dilakukan dua ekor ayam ini bukan semata-mata untuk melestarikan budaya melainkan juga untuk semakin mempererat silaturrahmi dikalangan maysarakat. Permainan ini sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Sumbawa sejak dahulu kala,walau pun sekarang sudah hampir hilang, sehingga harus terus dijaga dan dilestarikan untuk mempertahankan kearifan lokal yang ada.

DIRAWAT. Ayam-ayam yang akan Bertanding Sedang Dipijat oleh Pemiliknya, untuk Memberi Rasa Rileks.

Melestarikan Tradisi

Barapan Ayam ketika akan dimainkan, maka si pemilik akan menghiasinya dengan berbagai pernak pernik, seperti Jambo, terbuat dari benang dan dibuat khusus untuk menghiasi ayam yang akan ikut berlomba. Jambo akan diikatkan pada dada ayam dan melewati bagian bawah kemudian diikat pada punggungnya. Jambo juga berfungsi sebagai tempat untuk memasang Noga, atau alat yang terbuat dari kayu atau rotan berukuran 50-80 cm yang dipasang pada Jambo kedua ayam karapan tadi.

Sehari sebelum berlomba, biasanya kedua ayam akan menjalani ritual mandi khusus oleh sandro masing-masing dengan air beras disertai mantera. Ditambah dengan sebutir pil tradisional yang terbuat dari tujuh macam ramuan berkhasiat. Kebiasan lainnnya, si pemilik ayam mengajak ngobrol ayam aduannnya serta mengolesi minyak Sumbawa di pergelangan kaki, sayap, kedua mata ayam agar lebih awas, bahkan diminumkan ke ayam. Ayam yang menjadi juara harganya melonjak mencapai jutaan rupiah.

RAMAI. Arena Barapan Ayam di Desa Tambak Sari, Pototano, KSB, dipadati Penonton yang Menyaksikan Lomba ini, Rabu (5/4).

Menurut anggota panitia Barapan Ayam yang dilaksanakan di Desa Tambak Sari, Kec. Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Komaruddin, Barapan Ayam sudah menjadi kebiasaan yang turun-temurun dari masyarakat di wilayah itu. “Kegemaran ini adalah perpaduan sepasang ayam dengan keterampilan joki,” kata Komaruddin di sela-sela kegiatan Barapan Ayam, Rabu (5/4), bersamaan dengan pelepasan peserta Lari Lintas Sumbawa, Tambora Challenge 2017. Menurutnya akhir-akhir ini sudah mulai jarang diadakan swperti ini jadi harus terus dilestarikan, sekitar 160 pasang ayam mengikuti lomba kali ini.

Berbeda dengan Barapan Kebo, dimana joki menunggang dibelakang dua ekor Kerbau, joki pada Barapan Ayam menggunakan lontar sebagai alat penggiring ayam agar sampai ke tujuan dan ikut berlari bersama ayam aduannya. Kegiatan yang berlangsung pada (5/4), ini merupakan bagian dari Festival Pesona Mantar, yang berlangsung sejak 2-8 April mendatang dan merupakan bagian dari Festival Pesona Tambora (FPT) 2017. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com