Mataram, LombokInsider.com – Setelah lama tak terdengar kabar beritanya, karena kesibukannya sebagai General Manager (GM) di Patra Hotel and Resort di Bali, setelah memutuskan berhenti, Askar Daeng Kamis kembali muncul dengan konsep yang menarik tentang pembangunan dan pengembangan kepariwisataan di NTB, khususnya di Pulau Sumbawa.

Lama bergelut di dunia perhotelan, dari satu hotel ke hotel yang lain, saat ini Askar DG Kamis memilih untuk berwirausaha. Selain mengembangkan usaha di bidang kuliner yakni sambal khas Lombok dengan branding Bandar Sambal, Askar sebagai seorang pelaku pariwisata merasa tergerak hatinya untuk ikut memberikan sumbangsihnya kepada kemajuan pariwisata di NTB, khususnya di Pulau Sumbawa.

Konsep Pariwisata Kemasyarakatan

INISIATOR. Askar DG Kamis, Bersama Teman-temannya Merupakan Inisiator Terbentuknya Desa Wisata Labuhan Burung, Buer, Sumbawa.

“Saya selalu ingin berbagi secara riil kepada masyarakat, konsepnya sederhana saja, yakni melibatkan seluruh masyarakat dan juga wisatawan di suatu daerah yang memiliki potensi wisata yang bisa dijual. Kita nggak perlu hotel dan restoran mewah kalau memang tidak punya, kita jual apa adanya,” jelas Askar, yang sempat tinggal di Sumbawa dalam kurun waktu enam tahun.

Lebih lanjut Askar mengatakan bahwa hal itu bukan halangan untuk dapat menggali potensi wisata yang ada di suatu daerah. “Contohnya di Desa Labuhan Burung, Buer, Sumbawa Besar, kami coba untuk menginisiasi sebagai prototype (percontohan) konsep ini. Pada tahap awal akan kami akan membina sekitar 5 rumah warga yang bersih tentunya, sebagai tempat menginap,” lanjutnya.

Askar menjelaskan bahwa bagaimana perjalanan wisatawan akan dimulai dari Mataram, kemudian menyeberang dengan angkutan laut menuju Pulau Sumbawa dan melanjutkan perjalanan darat hingga tiba di tempat tujuan. Tanpa harus direkayasa, sehingga wisatawan akan merasakan tantangan yang ada untuk mencapai Desa Labuhan Burung ini dengan berbagai keunikannya.

Menjual Pengalaman

“Kami menjual pengalaman, dimana wisatawan yang datang akan ikut merasakan pola kehidupan masyarakat disana sehari-harinya. Bagaimana kemudian mereka akan tidur, makan, memasak, berbelanja, kelaut mencari ikan dan bermain bersama masyarakat di desa tersebut,” ucap Askar antusias.

“Malam harinya akan ada sesepuh atau orang tua, yang akan bercerita kepada wisatawan tentang sejarah Desa Labuhan Burung dari awal hingga saat ini, dengan bahasa mereka sendiri,” imbuh Askar DG Kamis.

“Jadi pada saat pulang nanti mereka akan merasakan pengalaman yang sangat berbeda dengan kehidupannya sehari-hari di lingkungan atau bahkan negaranya, jika mereka wisatawan asing,” katanya. Kedepannya diharapkan akan terbentuk desa wisata yang berkelanjutan, yang dalam kegiatannya melibatkan seluruh masyarakat disana.

Selama ini menurut Askar masyarakat kurang mendapat bagian dari “kue pariwisata” ini. “Bukan tidak dapat sama sekali ya, tapi kurang. Walaupun ada, itu juga tidak banyak, sehingga dengan konsep yang kami tawarkan ini nantinya masyarakatlah yang akan menikmati langsung dan mereka juga terlibat secara utuh didalamnya,” tegas Askar.

“Kuncinya adalah kebersihan dari tempat tinggal yang akan ditempati oleh para wisatawan ini nantinya. Mengapa Desa Labuhan Burung, karena saya banyak menghabiskan masa remaja disana, banyak kegiatan sehari-hari masyarakat yang dapat menarik perhatian wisatawan,” pungkasnya.

Tidak hanya Desa Labuhan Burung yang berbasis kehidupan nelayan, rencananya jika hal ini dapat berjalan baik, seseuai dengan yang diharapkan Askar juga akan merambah maju ke daerah Bima dan Dompu untuk mencari potensi dengan latar kehidupan masyarakat yang berbeda letak geografisnya. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com