Tim Shelter Indonesia di Puncak Gunung

Mataram, LombokInsider.com – Shelter Indonesia, yang terletak di Jl. Abdul Kadir Munsyi no. 14, Punia-Mataram, merupakan tempat dimana para pendaki atau pecinta alam dapat menemukan beberapa hal yang mereka butuhkan, pada satu tempat dan waktu. Bisnis yang telah dimulai sejak masih kuliah oleh pemiliknya Asep Norman Tanjung ini menyediakan perlengkapan untuk segala kegiatan yang berhubungan dengan pendakian, baik yang ingin membeli ataupun sekedar menyewa.

Berawal dari hobi

Awalnya Asep membuka toko ini karena hobinya mendaki gunung sejak SMA, namun pada saat kuliah dia baru

dapat mewujudkannya. “Alhamdulillah tercapai cita-cita untuk mempunyai toko alat-alat pendakian sendiri, ini semua dari hasil usaha berjualan di kampus pada waktu itu,” ungkap Asep saat ditemui LombokInsider.com beberapa waktu lalu. “Selain menjual alat-alat pendakian kami Shelter Indonesia juga menyewakan bagi yang tidak ingin membeli, selain peralatan kami juga menjual paket pendakian dan petualangan untuk keluarga seperti Rinjani, Tambora serta Komodo, untuk yang terakhir ini baru dimulai 2 tahun terakhir,” jelasnya.

Hobi. Asep dan Keluarga Memilki Hobi yang Sama

Hobi. Asep dan Keluarga Memilki Hobi yang Sama

Karena kesibukan kerjanya Asep mengaku sempat istirahat dari usahanya ini, sekitar 2002-2010. “Saat itu saya masih kerja di perusahaan konsultan proyek irigasi dari Jepang Nippon KOEI, dari 2002-2009, jadi nggak sempat urus toko,” kenang lulusan Teknik Sipil UNRAM ini. “Setelah berdikari dan punya perusahaan konsultan irigasi sendiri, sejak 2011 toko ini mulai aktif lagi, disini kami menjual pelbagai perlengkapan seperti tas, jaket, baju, sepatu, kaos, bandana dan masih banyak lagi,” lanjut Asep yang juga sebagai Komisaris CV. Mitra Pelaksana Persada Konsultan.

Peduli Lingkungan

Tercatat lima gunung pernah didaki oleh Asep yakni Rinjani, Tambora, Semeru, Argopuro dan Raung. “Sejak SMA saya bersama teman-teman pecinta alam sudah sering mendaki Rinjani, dulu pendaki tidak sebanyak ini, sekarang luar biasa pesona Rinjani dan Tambora bagi para pendaki,” ujar bapak dua orang putra-putri ini. Namun sayang menurut Asep masih sedikit pendaki yang sadar dan ikut serta untuk menjaga kebersihan lingkungan, hal ini membuatnya dan teman-teman lain yang peduli terhadap kebersihan lingkungan membentuk “Komunitas Trash

Bag”.

Tidak Hanya Mendaki, Shelter Indonesia juga Peduli Kebersihan Lingkungan Gunung.

Tidak Hanya Mendaki, Shelter Indonesia juga Peduli Kebersihan Lingkungan Gunung.

“Kami dari komunitas trash bag, mengajak para pendaki, porter serta pemandu wisata dan masyarakat untuk dapat berperan menjaga kebersihan lingkungan sekitar gunung yang ada, tidak hanya Rinjani,” tegas lulusan Teknik Sipil UNRAM ini. Hal ini menurutnya sangat membanggakan dimana dua gunung yang ada di NTB Rinjani dan Tambora menjadi magnet pariwisata untuk para petualang, namun memprihatinkan jika tidak dibarengi kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Asep sendiri merupakan ketua komunitas ini, Sukarno (Pasir) sebagai wakil dan Bagos Amaito Azikri sebagai koordinator operasional.

Promosi Kreatif dan Inovatif

Seiring waktu, usahanya pun perlahan mulai berkembang sehingga barang-barang yang dijual pun semakin banyak, bahkan Asep telah membuka cabang di Masbagik, Lotim dan Surabaya, menurutnya rencana kedepannya Surabaya akan menjadi pusatnya. Selain itu Asep juga kreatif berpromosi, baik dengan cara klasik, membagikan kartu nama dan promosi produk yang dijual di atas gunung, atau memanfaatkan internet dan media sosial seperti FB, Twitter, Instagram, WA dan juga BBM. “Alhamdulillah pelanggan dari para pendaki sudah banyak, hampir di seluruh Indonesia dan juga dari Malaysia, terutama anak-anak muda,” tambah jebolan Pecinta Alam SMAN 1 Mataram (Palasma) ini.

Ramai. Salah Satu Cabang Shelter Indonesia di Masbagik.

Ramai. Salah Satu Cabang Shelter Indonesia di Masbagik, Ramai oleh Pengunjung.

Kepedulian akan Keselamatan

Asep mengaku bahwa banyak para pendaki yang belum mengetahui apa dan bagaimana tindakan yang harus diambil jika mengalami masalah diatas gunung berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan. “Dari situlah muncul ide untuk bekerjasama dengan Wanadri dengan mengadakan pelatihan kepada para pendaki, porter dan juga pemandu wisata dimana mereka ini yang sering bersentuhan langsung dengan masalah ketika mendaki,” pungkasnya. Harapannya agar mereka semua paham bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika mendapat masalah diatas gunung.

Selain kegiatan pelatihan diatas, Shleter Indonesia pada Agustus ini juga telah mengirimkan dua orang anggotanya untuk mengikutin pelatihan survival di pulau Nusakambangan, juga bersama-sama pendaki seluruh Indonesia melakukan kegiatan pendakian ke Gunung Argopuro dan Raung di Jawa Timur untuk merayakan hari Kemerdekaan RI dan mengibarkan Bendera Merah Putih di puncaknya pada (17/8) yang lalu. Asep juga menularkan hobi mendakinya kepada keluarga, sehingga anak-anak dan istrinya pun jadi senang mendaki walaupun belum pernah sampai puncak Rinjani. (LI/AA)

About Author: Agus Apriyanto
Past Mine Worker (Corporate Communication Dept). Graphic Designer. Reporter/Editor. Father of 3 Children. Moslem. Lives in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. FB: Agus Apriyanto Email: agusborjuswp@gmail.com